MAKLUM, SEDANG NYINTING



Telah kusisiri lautan tepi...
Ku terjang ombak arungi dalam samudera...
Letak Kutiti, dimana dia terpusat...

Di bawah gemulan asap, asap domba...
Dengan jemari, ku aduk lahar yang tengah_"PASANG"
Puncak Merapi, ku selami...

Belantara Rimba...
Sepertiga dari malam...
Gelap, menakutkan...
Aku kembali...
Aku tertawa...
Aku menangis...
Juga...

Hambar, telah hilang rasa garam...
Wangi aroma masakan ibu, pun_tak lagi pernah kucium...
DAN...
Tak kurasakan didihnya "Lahar", Ku teguk...
Aku bisu...
Aku buta...

AKU...
Miliki Tangan...;
Hidung...;
Mata...;
Telinga...;
Lidah...!

Sempurna...
Namun otakku, sinting...
Kemana rasa sukurku?

Tuhan...!
Mengapa panasnya lahar tak membunuhku?
Berulang kali Ombak mencoba...
Kejamnya rimba, saat ini...
Hal serupa terus terjadi...
Tak pernah kutemukan jawab...

Jika Engkau miliki Titah lain...
Kembalikan aku...
Seperti awal ketika orang-orang tertawa riang atas hadirku...
Dan Di saat itu kutangisi setiap jengkal hidup yang akan kulakoni dengan lembaran hitam, dosa...
Meski konyol....
Maklum, Sedang Sinting...!

Aku milik-Mu...
TUHAN...

2.25am_Tlo.Mas_15,11,2012
"SINTING"
By: Irvan Hadzuka


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email