KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBN QAYYIM:

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBN QAYYIM:
RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN MODERN
TESIS
Oleh :
AL FURQON HASBI
NIM : O 000020030
Program Studi : Magister Studi Islam
Konsentrasi : Manajemen Pendidikan Islam
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2006
NOTA PEMBIMBING
Prof. Dr. H. M. Furqon H, M.Pd.
Dosen Program Magister Studi Islam
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nota Dinas
Hal : Tesis Saudara Al Furqon Hasbi
Kepada Yth
Direktur Program Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Di
Surakarta
Assalamu’alaikum, wr.wb.
Setelah membaca, meneliti, mengoreksi dan mengadakan perbaikan seperlunya
terhadap Tesis Saudara :
Nama : Al Furqon Hasbi
N I M : O 000020030
Program Studi : Magister Studi Islam
Konsentrasi : Manajemen Pendidikan Islam
Judul Tesis : Konsep Pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim:
Relevansinya Dengan Pendidikan Modern.
Dengan ini kami menilai tesis tersebut dapat disetujui untuk diajukan dalam sidang
ujian tesis pada program pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum, wr.wb.
Surakarta, April 2006
Pembimbing
Prof. Dr. H. M. Furqon H, M.Pd.
NOTA PEMBIMBING
Drs. H. Syamsul Hidayat, M.A.
Dosen Program Magister Studi Islam
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nota Dinas
Hal : Tesis Saudara Al Furqon Hasbi
Kepada Yth
Direktur Program Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Di
Surakarta
Assalamu’alaikum, wr.wb.
Setelah membaca, meneliti, mengoreksi dan mengadakan perbaikan seperlunya
terhadap Tesis Saudara :
Nama : Al Furqon Hasbi
N I M : O 000020030
Program Study : Magister Studi Islam
Konsentrasi : Manajemen Pendidikan Islam
Judul Tesis : Konsep Pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim:
Relevansinya Dengan Pendidikan Modern.
Dengan ini kami menilai tesis tersebut dapat disetujui untuk diajukan dalam sidang
ujian tesis pada program pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum, wr.wb.
Surakarta, Maret 2006
Pembimbing
Drs. H. Syamsul Hidayat, M.A.
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Al Furqon Hasbi
N I M : O 000020030
Program Study : Magister Studi Islam
Konsentrasi : Manajemen Pendidikan Islam
Judul Tesis : Konsep Pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim:
Relevansinya Dengan Pendidikan Modern.
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa tesis yang saya serahkan ini benarbenar
merupakan hasil karya saya sendiri, kecuali kutipan-kutipan dan ringkasanringkasan
yang semuanya telah saya jelaskan sumbernya. Apabila di kemudian hari
terbukti atau dapat dibuktikan tesis ini hasil jiplakan, maka gelar dan ijazah yang
diberikan oleh Universitas batal saya terima.
Surakarta, Maret 2006
Yang membuat pernyataan
Al Furqon Hasbi
MOTTO
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dinataramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(Q.S. Al-Mujadilah [58] : 11)
“Allah telah mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan.”
(HR. Ahmad)
“Jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari
ini.”.
(HR.)
PERSEMBAHAN
Segala sembah dan sujud hanya untuk Allah SWT
Tesis ini kudedikasikan untuk:
Abah (alm) dan Ummi tercinta atas segala usahanya dalam mendidik dan
membesarkan putra-putrinya
Mas Miftah beserta keluarga dan Mbak Dilah beserta keluarga yang penuh perhatian
Bapak, Ibu yang senantiasa memotivasi dalam kebaikan
Mas Bas beserta keluarga dan Rohmad berserta istri atas segala dukungannya
Istri dan kedua anakku yang setia dalam suka dan duka
ix
ABSTRAK
Tujuan penelitian dalam tesis ini ada tiga hal, yaitu : Pertama, untuk
mengetahui tentang konsep pendidikan Islam menurut para pakar pendidikan sebelum
Ibn Qayyim. Kedua, untuk mengetahui tentang konsep pendidikan Islam menurut Ibn
Qayyim. Ketiga, untuk mengetahui relevansi konsep pendidikan Ibn Qayyim dengan
pendidikan modern.
Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis menggunakan penelitian yang
bersifat Library Research dengan menggunakan bahan-bahan tertulis yang telah
dipublikasikan dalam bentuk buku.
Metode yang digunakan hermeneutik, yaitu menggunakan logika linguistik
dengan membuat penjelasan dan pemahaman terhadap makna kata dan makna bahasa
sebagai bahan dasar Dengan pendekatan filosofis, artinya seluruh substansinya
memerlukan olahan filosofik atau teoretik dan terkait pada nilai.
Untuk melihat pembaharuan konsep Ibn Qayyim dikemukakan konsep pakarpakar
pendidikan Islam sebelumnya yaitu Al-Qabisi (w.1012 M) perwakilan dari ahli
fikih dan hadis, Ibn Sina (w.1037 M) perwakilan dari ahli filsafat dan Al-Ghazali
(w.1111 M) perwakilan dari ahli tasawuf. Setelah ditelusuri konsep pendidikan Islam
para pakar tersebut maka dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan Ibn Qayyim
lebih komprehensif dari para pakar pendidikan sebelumnya karena tujuan
pendidikannya beriorentasi dunia dan akhirat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber dasar Ibn Qayyim dalam
pendidikan Islam adalah al-Qur'an, hadis, fitrah, Qiyas (analogi), I’tibar (mengambil
pelajaran), dzauq (perasaan), dan wujd (intuisi). Tujuan pendidikannya ialah
menanamkan pada diri manusia sikap ‘ubudiyah (penghambaan) hanya kepada Allah
Ta’ala, yang dengannya manusia mampu mencapai kesempurnaan diri, kebahagiaan
dan keselamatan.
Ibn Qayyim memperhatikan tiga unsur yang ada pada diri manusia yaitu unsur
jasmani (psikomotorik) yang meliputi pembinaan badan, ketrampilan (skill) dan
pendidikan seksual, unsur ruhani (afektif) yang meliputi pembinaan iman, akhlak dan
iradah (kehendak), unsur akal (kognitif) yang meliputi pembinaan kecerdasan dan
pemberian pengetahuan.
Alat pendidikan menurutnya beragam, baik yang bersifat meterial seperti alat
tulis dan panca indra maupun yang bersifat non material seperti metode pengajaran.
Lingkungan menurutnya sangat berpengaruh dalam pendidikan. Lingkungan
yang dimaksud ialah keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan dan masjid.
Pendidik dan peserta didik menurutnya harus menghiasi dirinya dengan sifatsifat
yang baik dan akhlak yang mulia.
Konsep pendidikan Ibn Qayyim yang komprehensif tersebut masih sangat
relevan dengan konsep pendidikan modern saat ini.
KATA PENGANTAR
ÇáúÍóãúÏõ ááåö ÑóÈøö ÇáÚóÇáóãöíúäó æóÇáÕøóáÇóÉ æóÇáÓøóáÇóãõ Úóáìó ÇóÔúÑóÝö ÇáÃóäúÈöíóÂÁö æóÇúáãõÑúÓóáöíúäó æóÚóáóì Ãóáö åö
æóÕóÍúÈöåö ÃóÌúãóÚöíúäó.
Teriring puji syukur atas rahmat Allah SWT yang senantiasa terlimpahkan
pada hamba-Nya yang hanif. Hanya dengan kehendak al-Rahman pula penulis dapat
menyelesaikan tesis ini. Shalawat dan salam semoga tercurahkan untuk pembawa
pelita kehidupan, teladan manusia, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para
sahabat, tabi'in dan segenap hamba Allah yang setia mengikuti jalannya.
Dalam menyusun tesis ini, penulis telah mengeluarkan segala kemampuan
yang penulis miliki, dan dengan bantuan dan dorongan berbagai pihak maka
tersusunlah tesis ini dengan judul "Konsep Pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim:
Relevansinya dengan Pendidikan Modern".
Tesis ini sengaja dibuat sebagai upaya penulis menunjukkan pemikiran Ibn
Qayyim mengenai pendidikan Islam, karena selama ini Ibn Qayyim lebih banyak
dikenal sebagai pembaharu dibidang akidah dan fiqih. Padahal setelah penulis teliti
banyak sekali karya-karyanya mengenai konsep pendidikan Islam yang itu kurang
diperhatikan oleh banyak kalangan, oleh sebab itu penulis bermaksud untuk
memperkenalkan karyanya tentang konsep pendidikannya.
Lazimnya sebuah penulisan dan penelitian sebagai produk anak manusia,
maka ia tak luput dari kekeliruan dan kesalahan, karena pada hakikatnya melalui
kesalahan tersebut maka akan ditemukan sebuah kebenaran. Bukanlah sebuah
kebenaran tatkala di dalamnya tidak terdapat celah kesalahan. Dalam sebuah tradisi
pengetahuan, bahwa lahirnya disiplin ilmu dari sebuah proses trial and error.
Walaupun demikian proses tersebut harus mampu dipertanggungjawabkan secara
ilmiah. Sehingga penulis dalam kajiannya harus tetap berada dalam bingkai tradisi
keilmuan.
Selanjutnya penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini tidak akan berjalan
lancar dan baik tanpa bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Atas terselesainya tesis
ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayat dan
Drs. H. Syamsul Hidayat, MA yang telah membimbing dan meluangkan waktunya
guna membantu dalam penyelesaian tesis ini dan semoga Allah SWT memudahkan
langkah-langkah keduanya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa. Amin. Penulis
juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Rektor UMS Prof. Dr. Bambang Setiaji
2. Direktur Pascasarjana UMS Dr. H. M. Wahyuddin, MS.
3. Prof. Dr. Nasruddin Baidan atas ilmu tafsirnya
4. Prof. Dr. Zuhri atas segala informasi ilmu hadis
5. Prof. Dr. Musa Asy'ari atas ilmu yang diberikannya
6. Prof. Dr. Azumardi Azra atas ilmu manajemen pendidikan kontemporer
7. Prof. Dr. Nung Muhajir atas ilmu metodologi penelitian
8. Prof. H. Shaleh Ihram, Ph.D atas ilmu pendidikannya
9. Prof. Dr. Achmadi atas ilmu pendidikannya
10. Drs. H. M. Najmuddian Zuhdi, MA atas tasyji' dan taujihatnya
11. Drs. H. Syamsul Hidayat, MA atas ilmu sejarah kebudayaan Islam
12. Drs. Edi Setyoko, MA atas segala pencerahan dan ilmu tafsir
13. Drs. Zakiyuddin, M.Ag atas ilmu yang diberikannya
14. Drs. M. Fattah Santoso, MA atas ilmu peradaban Islam
15. Drs. Waston, M.Hum atas ilmunya
16. Segenap ustadz dan staf Ma'had Abu Bakar Ash-Shidiq atas kerja samanya
17. Ana Wahyuni, S.Sos dan Mulyono, SE atas bantuan buku-bukunya di
perpustakaan
18. Gun Gun atas lemburannya
19. Istriku tercinta yang telah banyak membantu dan memberi motivasi dalam
penyelesaian tesis ini.
Akhirnya penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi penulis dan
pembacanya.
Surakarta, April 2006
Al Furqon Hasbi
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING ........................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... iv
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS........................................................ v
HALAMAN MOTTO................................................................................ vi
PERSEMBAHAN...................................................................................... vii
TRANSLITERASI..................................................................................... viii
ABSTRAKSI ............................................................................................. ix
KATA PENGANTAR ............................................................................... x
DAFTAR ISI.............................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah........................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................. 9
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .......................................... 9
D. Studi Pustaka......................................................................... 11
E. Kerangka Teoritik ................................................................. 14
1. Pengertian Pendidikan dalam Islam................................ 14
2. Hubungan Antara Islam dan Pendidikan......................... 18
3. Pengertian Pendidikan Islam........................................... 20
F. Metode Penelitian ................................................................. 22
G. Sistematika Pembahasan ....................................................... 26
Halaman
xiv
BAB II KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PARA PAKAR
PENDIDIKAN SEBELUM IBN QAYYIM
A. Faktor-faktor Pendidikan ...................................................... 28
1. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam ............................... 28
2. Alat Pendidikan............................................................... 31
3. Lingkungan Pendidikan .................................................. 32
4. Pendidik .......................................................................... 34
5. Peserta Didik ................................................................... 35
B. Konsep Para Pakar Pendidikan Islam Sebelum Ibn Qayyim 36
1. Al-Qabisi......................................................................... 36
2. Ibn Sina ........................................................................... 45
3. Al-Ghazali....................................................................... 56
BAB III KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBN QAYYIM
A. Biografi Ibn Qayyim ............................................................. 74
1. Nama dan Kelahirannya................................................... 74
2. Latar Belakang Intelektual dan Pendidikan ..................... 75
3. Guru-gurunya................................................................... 76
4. Disiplin ilmunya............................................................... 78
5. Profesinya ........................................................................ 79
6. Dipenjara.......................................................................... 79
7. Murid-muridnya............................................................... 79
8. Karya tulisnya .................................................................. 81
9. Metode Penulisan dalam Karangannya............................ 88
10. Akhlak dan Ibadahnya ..................................................... 91
11. Pengakuan para Ulama .................................................... 92
xv
12. Wafatnya.......................................................................... 93
13. Keberhasilan dan Pengaruhnya dalam Dunia Pendidikan 93
B. Konsep Pendidikan Ibn Qayyim ........................................... 93
1. Pendidikan menurut Ibn Qayyim .................................... 96
2. Faktor-faktor Pendidikan ................................................ 101
a. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam ......................... 101
b. Alat Pendidikan......................................................... 121
c. Lingkungan Pendidikan ............................................ 146
d. Pendidik .................................................................... 155
e. Peserta Didik ............................................................. 161
BAB IV RELEVANSI KONSEP PENDIDIKAN IBN QAYYIM DENGAN
PENDIDIKAN MODERN
A. Studi Komparatif Konsep Pendidikan Islam Ibn Qayyim
dengan para Tokoh Pendidikan yang Hidup Sebelumnya .... 171
B. Analisis Konsep Pendidikan Islam Ibn Qayyim dari Sudut
Pandang Pendidikan Modern dan Relevansinya................... 190
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................... 223
B. Saran...................................................................................... 242
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 244
LAMPIRAN............................................................................................... 250
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Masalah Ilmu Pendidikan Islam................................................................. 250
Maktabah Syeikh al-Islam wa Tilmidzihi Ibn al-Qayyim.......................... 251
Miftah Dar al-Sa'adah ................................................................................ 253
Tuhfah al-Maudud...................................................................................... 254
Al-Thib al-Nabawi ..................................................................................... 255
Raudhah al-Muhibbin ................................................................................ 256
Al-Fawaid .................................................................................................. 257
Zaad al-Ma'ad............................................................................................. 258
Ibn Qayyim al-Jauziyah: Hayatuhu wa Atsaruhu ..................................... 259
Ketangkasan dalam berperang ................................................................... 260
Perbandingan Pendidikan Islam................................................................. 261
Pemikiran Pendidikan Islam ...................................................................... 262
Aliran baru dalam Pendidikan.................................................................... 263
Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam.......................................... 264
Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke 21 ............................................... 265
Manhaj Tarbiyah Ibn Qayyim.................................................................... 266
Mutiara Hikmah Kitab Madarijus Salikin.................................................. 267
Hakikat Musibah menurut Ibn Qayyim ..................................................... 268
Para Pemikir Pendidikan Islam sebelum Ibn Qayyim …………………… 269
Studi Komparatif Konsep Pend. Ibn Qayyim dan Para Tokoh Sebelumnya 270
Studi Komparatif Konsep Pend. Ibn Qayyim dan Pend. Modern ………… 273
Nama Lampiran Halaman
xvii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Islam telah berlangsung 15 abad, yakni sejak Nabi
Muhammad Saw diutus sebagai Rasul. Pada awalnya pendidikan berlangsung
secara sederhana, dengan masjid sebagai pusat pembelajaran. Al-Qur'an dan
hadis sebagai kurikulum utama dan Rasulullah sendiri berperan sebagai guru
dalam proses pendidikan tersebut. Setelah Rasulullah Saw wafat Islam terus
berkembang. Kurikulum pendidikan yang awalnya terbatas pada al-Qur'an
dan hadis berkembang dengan dimasukkannya ilmu-ilmu baru yang berasal
dari luar Jazirah Arab yang telah mengalami kontak dengan Islam baik dalam
bentuk peperangan maupun dalam bentuk hubungan damai.
Sejarah menunjukkan bahwa perkembangan kegiatan kependidikan
pada masa klasik Islam telah membawa Islam sebagai jembatan
pengembangan keilmuan dari keilmuan klasik ke keilmuan modern. Akan
tetapi generasi umat Islam seterusnya tidak mewarisi semangat ilmiah yang
dimiliki para pendahulunya. Akibatnya prestasi yang telah diraih berpindah
tangan ke Barat, karena ternyata mereka mau mempelajari dan meniru tradisi
keilmuan yang dimiliki oleh umat Islam masa klasik dan mampu
mengembangkannya lebih lanjut.
Dalam kaitan itulah penelusuran kembali terhadap konsep atau
pemikiran kependidikan yang berkembang di kalangan umat Islam sejak masa
1
2
klasik sampai dengan masa kontemporer atau modern menjadi sesuatu yang
sangat penting dan bermanfaat.
Penelitian terhadap para pakar pendidikan telah banyak dilakukan oleh
peneliti-peneliti di dalam maupun di luar negeri. Hasil penelitiannya dalam
bentuk skripsi, tesis maupun disertasi, bahkan telah dipublikasikan dalam
bentuk buku. Tokoh-tokoh pendidikan Islam yang dijadikan obyek penelitian
adalah ulama-ulama hadis, fiqih, filsafat Islam dan tasawuf Islam. Akan tetapi
belum banyak dilakukan penelitian terhadap konsep pendidikan Ibn Qayyim,
seorang pembaharu yang hidup di abad pertengahan. Konsep
kependidikannya dituangkan dalam buku-bukunya, tetapi di kalangan dunia
pendidikan belum mengenalnya sebagai tokoh pendidikan. Ia lebih dikenal
sebagai tokoh pembaharu dalam bidang aqidah dan fiqih, diakui sebagai ahli
tafsir, ahli usul fiqih, dan ahli bahasa.
Untuk itu sangat penting dilakukan penelitian terhadap konsep
pendidikan Ibn Qayyim agar diketahui umat Islam pada umumnya dan dunia
pendidikan pada khususnya sehingga menambah khazanah keilmuan dalam
bidang pendidikan.
Para ulama yang dikategorikan sebagai tokoh pendidikan yang hidup
sebelum Ibn Qayyim banyak jumlahnya. Mereka banyak sumbangannya
dalam pengembangan pemikiran pendidikan Islam Diantara mereka ada yang
menulis buku-buku dan risalah-risalah khusus mengenai pendidikan (Hasan
Langgulung, 1988:31).
3
Muhammad Ibn Abd al-Salam Ibn Sahnun al-Tanawukhi al-Qirawani
(202-256H/802-856M) menulis buku Adab al-Mu’allimin. Itu adalah buku
himpunan dari catatan ayahnya, ukurannya kecil dan hanya terdiri dari 26
halaman. Buku tertua dalam masalah pendidikan yang sampai ke zaman ini.
Di dalamnya membahas masalah dasar-dasar pendidikan dan pengajaran, juga
membahas masalah kewajiban bagi seorang guru dan murid (al-Khatib,
1993:356).
Setelah berjalan satu abad lamanya yaitu pada abad keempat hijriyah
(abad 10 Masehi), barulah muncul beberapa tokoh pendidikan diantaranya Ali
Ibn Muhammad Ibn Khalaf al-Qabisi (324-403H/936-1012M), Abu al-Hasan
Ali al-Mawardy al-Bashry (364-450H/974-1058M), Yusuf Ibn Abdullah Ibn
Abd al-Bar al-Qurthuby (368-463H/968-1063M), Husain Ibn Abdullah Ibn
Hasan Ibn Ali Ibn Sina (370-428H/980-1037M), Ibn Miskawaih (372-
421H/982-1039M) (Hasan Langgulung, 1988:31).
Al-Qabisi menulis al-Risalah al-Mufasholah li Ahwal al-Muta’alimin
wa Ahkam al-Mu’allimin wa al-Muta’alimin. Kitab tersebut terdiri atas tiga
juz. Di dalam penyusunan kitab tersebut, al-Qabisi sangat terpengaruh oleh
Muhammad Ibn Sahnun. Al-Qabisi menerangkan tentang pentingnya
pengajaran dan tanggungjawab pengarahan khususnya untuk periode pertama
(anak-anak). Al-Qabisi memaparkan juga tentang pengajaran untuk anakanak
putri dan mencukupkan pengajaran untuk mereka ilmu-ilmu yang
bermanfaat, sebagaimana membicarakan tentang hukuman dan hubungan
4
antara para guru dan murid, tidak ketinggalan pula membahas masalah
kewajiban bagi para guru dan kurikulum pelajaran (al-Khatib, 1993:357).
Al-Mawardy al-Bashry (364-450H/974-1058M) salah seorang Qadhi
Bagdad yang paling ulung menulis buku yang berkaitan dengan pendidikan
Adab al-Dunya wa al-Din (Hasan Langgulung, 1988:31).
Ibn abd al-Bar al-Qurthuby (368-463H/968-1063M) seorang ahli hadis
menulis yang berkaitan dengan pendidikan Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi
wa Ma Yanbaghi fi Riwayatihi wa Hamlihi. Kitab yang terdiri dua juz ini
membahas masalah pentingnya pengajaran dan kedudukannya dalam Islam.
Ia membahas tentang pengajaran di masa kecil dan urgensinya, sebagaimana
membahas tentang perjalanan dalam mencari ilmu, dan menjelaskan tentang
metode pengajaran yang paling baik, kewajiban guru, etikanya dan hakhaknya
serta kewajiban murid terhadap gurunya. Semua itu didukung dengan
dalil-dalil dari al-Qur'an, Hadis, Atsar dan kisah-kisah para ulama besar,
disamping mengambil kesimpulan dan memberikan solusinya (al-Khatib,
1993:356).
Ibn Sina (370-428H/980-1037M) seorang ahli filsafat yang banyak
memberikan saham dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan Islam, yang
amat berharga sekali dan tidak kecil pengaruhnya terhadap pendidikan Islam
dewasa ini. (al-Jumbulaty, 2002:118). Ibn Sina tidak menulis buku khusus
masalah pendidikan, akan tetapi pemikiran filsafatnya tentang konsep
pendidikan tersebar di berbagai karyanya yang tidak kurang dari 200 buah. Di
5
antaranya al-Qanun fi al-Tibb, al-Isyarah wa al-Tanbihat, ‘Uyun al-Hikmah
(Ensiklopedi Islam, 1993:167).
Ibn Miskawaih (372-421H/982-1039M), seorang Majusi yang masuk
Islam, seorang ahli ilmu sastra, filsafat, kimia, kedokteran dan sejarah.
Banyak buku yang ia tulis, diantaranya yang berkaitan dengan pendidikan
adalah Tahdzieb al-Akhlaq (al-Jumbulaty, 2002:116).
Pada abad ke-lima hijriyah (abad 11 M) muncul seorang ulama tasawuf,
Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali (450-505H/1058-1111M). yang
menaruh perhatian besar terhadap pendidikan. Karyanya yang menyangkut
masalah pendidikan adalah Ihya al-‘Ulum al-Din , Fatih al-‘Ulum, dan
Ayyuha al-Walad.
Pada abad ke-enam hijriyah (abad 11 M), muncul Burhanuddin (w.591
H/1191M) dan al-Sam’any (W.592H/1192M). Al-Zarnujy menulis buku
Ta’lim al-muta’allim; Thariq al-Ta’allum, sebuah risalah yang bernilai tinggi,
yang membahas masalah arti ilmu dan fiqih, niat dalam mencari ilmu,
memilih ilmu yang bermanfaat, belajar dari para guru yang mulia,
sebagaimana membicarakan tentang menghormati ilmu dan ulama, cara
mengambil manfaat, pentingnya takwa dan wara’ dalam mencari ilmu, juga
membahas masalah hal-hal yang menimbulkan mudah hafal dan mudah lupa
(al-Khatib, 1993:359).
Al-Sam’any (W.592H/1192M) menulis kitab yang berjudul Siyasah al-
Shibyan wa Tadbiruhum dan Adab al-Imla’ wa al-Istimla’ (Hasan
Langgulung, 1988:31).
6
Pada abad ke-tujuh hijriyah (abad 13 M) al-Qadhi Badruddin Ibrahim
Ibn Sa’ad Ibn Jama’ah (639-733H/1239-1333M) menulis kitab dengan judul
Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim fi adab al-‘Alim wa al-Muta’allim.
Sebuah kitab yang paling lengkap tentang kewajiban guru dan etikanya,
kewajiban murid dan etikanya, dan hubungan antara keduanya, Ilmu yang
mulai dipelajari bagi seorang murid serta etika di asrama (al-Khatib,
1993:358).
Pada ahir abad ke-tujuh hijriyah, yaitu tahun 691 hijriyah (abad 13 M),
Ibn Qayyim lahir dan setelah menjadi ulama yang saat itu sudah masuk pada
abad ke-delapan hijriyah (abad 14 M) mulai banyak menulis kitab di berbagai
disiplin ilmu, secara keseluruhan menurut Abu Zaid karya tulis Ibn Qayyim
berjumlah 96 kitab bahkan Hasan Ibn Ali al-Hijazy mendata karya Ibn
Qayyim 97 buah. Usianya 60 tahun (691–751 H/1291-1351 M). Karyanya
yang berkaitan dengan pendidikan diantaranya adalah Tuhfah al-Maudud bi
Ahkam al-Maulud (Hadiah kasihsayang dengan hukum-hukum untuk anak
yang baru lahir), ditulis sebagai hadiah dari sang ayah, Ibn Qayyim untuk
putranya, Burhanuddin yang baru dikarunia anak (Abu Zaid, 1985:141).
Sebuah kitab yang dapat dijadikan pedoman bagi orang tua yang peduli
pendidikan dan hukum, karena di dalamnya dibahas tentang hukum-hukum
yang berkaitan dengan bayi yang baru lahir, dari masalah Aqiqah, potong
rambut, memberi nama sampai mendidiknya. Sebuah kitab yang membahas
tentang perjalanan anak manusia sejak masih berbentuk Nuthfah sampai
masuknya surga atau neraka. Ibn Qayyim membagi pembahasannya menjadi
7
17 bab, dan mengkhususkan masalah pendidikan pada bab 15 dan 16. Dengan
memberi judul pada bab 15: Wujub Ta’dib al-Aulad wa Ta’limihim wa al-
‘Adl Bainahum (Wajib mendidik anak dan mengajarinya, serta bersikap adil
terhadapnya). Pada bab 16: Fusul Nafi’ah fi Tarbiyah al-Aulad (Hal-hal yang
bermanfa’at dalam pendidikan anak).
Karyanya yang lain, Miftah Dar al-Sa’adah wa Mansyur Wilayah al-
‘Ilmi wa al-Iradah (Kunci Rumah kebahagiaan dan Penyebaran wilayah Ilmu
dan kehendak) terdiri dua juz. Di dalam juz satu (2004, Dar al-Hadis, Kairo,
Mesir) membahas masalah ilmu dari halaman 61 – 239 (178 halaman). Ibn
Qayyim menjelaskan panjang lebar tentang ilmu dan kehendak serta
kedudukannya, ilmu dan keutamaannya serta kebutuhan manusia akan ilmu
dan menjadi tanda kesempurnaanya, ilmu lebih utama dari harta, pembawa
ilmu adalah orang-orang yang adil.
Kitabnya Fadhl al-‘Ilm wa Ahlihi (Keutamaan ilmu dan Para Ulama)
pembahasannya berkisar masalah ilmu dan keutamaannya yang didasari
dengan 200 dalil. Bukunya al-Thib al-Nabawi (Pengobatan cara Nabi),
sebagai pedoman pendidikan jasmani karena membicarakan masalah
kesehatan dan masalah seksual. Al-Furusiyah (Pacuan Kuda) merupakan
buku pendidikan jasmani karena membahas masalah olahraga. Bukunya
Madarij al-Salikin (Tahapan Para Pejalan) merupakan buku pendidikan
rohani karena pembahasannya masalah pendidikan iman, akhlak dan
kehendak.
8
Raudhah al-Muhibbin (Taman Pecinta) sebuah buku pendidikan remaja
karena pembahasannya masalah cinta yang sedang melanda anak muda.
Dan banyak bertebaran dalam karya-karyanya kajian tentang masalah
pendidikan dengan tidak spesifik. Hal ini sebagai bukti perhatian yang sangat
tinggi terhadap pendidikan.
Untuk itu penting mengkaji tentang konsep atau pemikiran Ibn Qayyim
al-Jauziyyah dalam bidang pendidikan. Hal itu dilakukan untuk diketahui
bahwa Ibn Qayyim bukan hanya tokoh pembaharu dalam bidang aqidah dan
fikih atau sebagai ahli ushul al-fiqih, ahli tafsir dan ahli bahasa, akan tetapi ia
juga sebagai tokoh pendidikan. Dia adalah seorang guru besar yang
menelorkan para ulama terkenal, seperti Al-Dzahaby (w.748H), Ibn Katsir
(w.774H), Ibn Rajab (w.795H).
Dengan demikian perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui
tentang kepakaran Ibn Qayyim dalam bidang pendidikan dan
pembaharuannya. Sebagai studi komperatif perlu mengkaji terlebih dahulu
konsep beberapa pakar pendidikan sebelumnya seperti Al-Qabisi (324-403
H/936-1012 M ) seorang ahli hadis dan fiqih, Ibn Sina (370-428 H / 980-1037
M) seorang ahli filsafat Islam, Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) seorang
ahli tasawwuf. Untuk mengetahui relevansi pemikiran pendidikannya dengan
pendidikan modern, perlu mengkaji konsep-konsep pendidikan para pakar
pendidikan modern.
Oleh karenanya penelitian ini menjadi sesuatu yang sangat penting dan
bermanfaat. Penelitian ini menelususri kembali pemikiran-pemikiran
9
kependidikan yang berkembang di kalangan umat Islam sejak zaman klasik
hingga zaman modern.
Dengan demikian, penelitian ini meliputi tiga konsep, konsep
pendidikan menurut para pakar sebelum Ibn Qayyim atau periode klasik
(650-1250 M), konsep pendidikan Ibn Qayyim yang hidup di periode
pertengahan (1250-1800 M) dan konsep pendidikan modern (1800 Msekarang).
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang dikemukakan di atas dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut.
1. Bagaimana konsep pendidikan Islam menurut para pakar pendidikan
sebelum Ibn Qayyim?
2. Bagaimana konsep pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim?
3. Bagaimana relevansinya dengan konsep pendidikan modern?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui tentang konsep pendidikan Islam menurut para
pakar pendidikan sebelum Ibn Qayyim.
b. Untuk mengetahui tentang konsep pendidikan Islam menurut Ibn
Qayyim.
10
c. Untuk mengetahui tentang relevansi konsep pendidikan Ibn Qayyim
dengan pendidikan modern
2. Kegunaan Penelitian
Pada dasarnya penelitian pemikiran seorang pakar pendidikan
mempunyai kegunaan ganda.
Pertama: Hasil penelitian berguna untuk mengembangkan pengetahuan
ilmiah di bidang pendidikan. Hal ini mencakup:
a. Untuk merumuskan konsep pemikiran baru, sehingga wacana
pendidikan Islam semakin kaya.
b. Untuk menata pengkajian pemikiran pakar pendidikan sebagai subyek
khusus dengan kelengkapan unsur informasi dan unsur metodologi
yang dapat digunakan oleh para peneliti pemula, termasuk mahasiswa
yang sedang menyelesaikan penelitian akademis (skripsi, tesis, dan
disertasi).
c. Untuk dialihkan ke dalam kegiatan pembelajaran sehingga para
mahasiswa akan memperoleh informasi mutakhir tentang pemikiran
pakar pendidikan, yang pada ujungnya dapat mendorong peneliti untuk
mengembangkan potensi berpikir kreatif sebagaimana dilakukan oleh
pakar pendidikan yang ditelitinya.
d. Untuk dijadikan titik tolak bagi penelitian pemikiran pakar pendidikan
lebih lanjut, baik oleh penulis maupun oleh peneliti lain, sehingga
kegiatan penelitian dapat dilakukan secara berkesinambungan.
11
Kedua: Hasil penelitian berguna bagi pemenuhan hajat hidup manusia,
khususnya berkenaan dengan aspek penataan kehidupan kolektif. Ia
mencakup:
a. Untuk mengembangkan apresiasi terhadap pemikiran pakar pendidikan
sebagai wujud kebebasan berpikir dan berpendapat dalam entitas
kehidupan Muslim.
b. Untuk meningkatkan apresiasi terhadap pandangan dan pemikiran
yang berbeda-beda, sehingga akan muncul toleransi yang tinggi
terhadap keberagaman pandangan dan pemikiran.
c. Untuk dijadikan salah satu bahan rujukan dalam proses penataan
kehidupan manusia yang semakin pelik dan majemuk, dengan cara
12
mencari titik temu dari aneka ragam pemikiran yang dapat diaplikasikan,
di antaranya bagi pengembangan pendidikan nasional. Apabila hal ini
akan digunakan, maka hasil penelitian pemikiran pakar pendidikan
diintegrasikan dengan unsur lain dalam konteks sosial dan budaya.
D. Studi Pustaka
Berkaitan dengan penulisan tesis ini, telah diupayakan penelusuran
pembahasan-pembahasan yang terkait dengan obyek masalah tentang konsep
pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim.
Penelusuran awal dilakukan di pascasarjana UMS, ternyata belum ada
tesis yang membahas tentang konsep pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim.
Penelusuran selanjutnya dilakukan dengan menela’ah buku-buku yang
terkait dengan obyek pembahasan. Diantaranya;
Hasan Ibn Ali al-Hijazy (2001 M) menulis disertasi berbahasa Arab,
al-Fikr al-Tarbawy ‘inda Ibn Qayyim. Ia mengkaji tentang pemikiran
pendidikan Ibn Qayyim secara utuh, yaitu pendidikan imaniyah (keimanan),
ruhiyah (rohani), fikriyah (akal), athifiyah (perasaan), khuluqiyah (akhlak),
ijtima’iyah (sosial), iradah (kehendak), badaniyah, (jasmani) dan jinsiyah
(sex), tetapi ia tidak melihat konsep pendidikan Islam menurut pakar-pakar
pendidikan sebelumnya, dengan demikian belum dapat diketahui, apakah
konsep pendidkan Ibn Qayyim tersebut murni dari pemikirannya ataukah
13
hanya mengulang apa yang telah dicetuskan oleh pakar-pakar sebelumnya. Ia
juga tidak melihat relevansinya dengan pendidikan modern.
Abdurrahman al-Nahlawy (1996 M) dalam bukunya Ushul al-
Tarbiyah wa Asalibuha menyebutkan bahwa Ibn Qayyim adalah seorang al-
Muraabi al-Kabir (Tokoh Pendidik). Ia membahas sekilas tentang pandangan
Ibn Qayyim masalah pendidikan skill dengan mengutip dari tulisan Ibn
Qayyim dalam buku Tuhfah al-Maudud bi Ahkam al-Maulud. Ia tidak
menjelaskan tentang konsep pendidikan Ibn Qayyim secara menyeluruh.
Shalah Syadi (2003 M) menulis Ta’ammulat fi Kitab Madarij al-
Salikin li Ibn Qayyim al-Jauziyyah, sebuah kajian tentang pandangan Ibn
Qayyim dalam masalah akhlak, ilmu dan kehendak, Iman dan Islam, hidup
bermasyarakat, atau dapat dikatakan sebuah mutiara hikmah dalam buku
Madarij al-Salikin. Di dalam pembahasannya ada unsur pendidikan rohani.
Kajiannya tentang pendidikan tidak komprehensif karena hanya dari unsur
rohani.
Abdul Ilahi Ibn Utsman (1416 H/1996 M) Ara’ Ibn Qayyim Haula
al-I’aqah (Pendapat Ibn Qayyim seputar orang-orang cacat), sebuah kajian
tentang pandangan Ibn Qayyim mengenai hakikat musibah, orang-orang cacat
dan telah lanjut usia menurut Islam. Pembahasan dalam buku tersebut tentang
pendidikan mental dan pendidikan akhlak. Kajiannya tidak komprehensif
karena hanya dari sisi pendidikan rohani.
14
Selain tersebut di atas ada kajian tentang Ibn Qayyim, tetapi tidak
spesifik membahas tentang konsep Ibn Qayyim dalam bidang pendidikan.
Bakr Ibn Abdillah Abu Zaid (1400 H/1982 M) menulis Ibn Qayyim
al-Jauziyyah:Hayatuhu wa Atsaruhu (Ibn Qayyim al-Jauziyyah: Biografi dan
karya-karyanya), sebuah kajian tentang kehidupannya sejak lahir hingga
wafatnya, para guru, murid, dan karya-karyanya. Di antara kajiannya tentang
peran Ibn Qayyim dalam lembaga pendidikan yang dipimpin ayahnya.
Profesinya sebagai pendidik yang menelorkan banyak ulama yang terkenal.
Abu Zaid tidak membahas tentang konsep pendidikan Ibn Qayyim.
‘Iwadullah Hijazy (1392H/1972M) menulis Ibn Qayyim wa
Mauqifuhu min al-Fikr al-Islamy (Ibn Qayyim: Sikapnya terhadap Pemikiran
Islam), sebuah kajian tentang sikap Ibn Qayyim terhadap perkembangan
pemikiran Islam. Hijazy tidak membahas masalah konsep pendidikan Ibn
Qayyim.
Dalam Ensiklopedi Islam (1993), penyebutan Ibnu Qayyim secara
singkat, kurang dari satu halaman. Disebutkan tentang pandangan Ibn
Qayyim yang berpendirian bahwa pintu ijtihad tetap terbuka. Disebutkan pula
bahwa Ibn Qayyim seorang ulama yang luas dan dalam ilmunya, seorang
pengarang yang produktif. Di dalam penjelasannya tidak disebutkan sama
sekali tentang kepakarannya dalam pendidikan.
Berdasarkan penelusuran terhadap buku-buku tentang Ibn Qayyim
tersebut di atas menunjukkan belum adanya tulisan, kajian atau penelitian
15
secara spesifik tentang konsep pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim. Oleh
karenanya, penelitian ini merupakan sesuatu yang baru sehingga diharapkan
dapat mengisi kekosongan tersebut atau dapat melengkapi kekurangan yang
sudah ada.
E. Kerangka teoritik
1. Pengertian Pendidikan Dalam Islam
a. Tinjauan Kebahasaan
Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah,
maka sumber pendidikan Islam yang paling utama juga Al-Qur'an dan
Sunnah Rasul.
Kedua sumber pendidikan Islam tersebut dapat ditemukan di
dalamnya kata-kata atau istilah-istilah yang pengertiannya terkait
dengan pendidikan, yaitu rabba ( ÑÈìø ) kata kerja dari tarbiya( , (ÊÑÈíÉ
‘allama ( Úáøã )kata kerja dari ta’lim( ÊÚáíã ) dan addaba( ÃÏ È ) kata kerja dari
ta’dib ( . (ÊÃÏ íÈ
Misalnya :
1) Rabba ( (ÑÈìø
ÑÈ ÇÑÍãåãÇ ÂãÇ ÑÈíÇäí ÕÛíÑÇ
Ya Tuhan, sayangilah keduanya (orang tuaku) sebagaimana mereka telah
mengasuhku (mendidikku) sejak kecil. (QS. Al-Isra’/17: 24)
2) ‘Allama ( (Úáøã
Úáøã ÇáÅäÓÇä ãÇ áã íÚáã
Dia yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS.
Al-Baqarah/2 : 5)
16
3) Addaba ( (ÃÏ È
åóÐóÇ ÃóÏøóÈóÊúåõ Ãõãøõåõ æóÃóäúÊó ÃóÏøóÈóÊúßó Ãõãøõßó
Ibunya telah mendidiknya dan ibumu telah mendidikmu (HR. Muslim,
Masajid, no: 66)
Dalam bahasa Arab, kata-kata rabba, ‘allama, dan addaba tersebut
di atas mengandung pengertian sebagai berikut :
a. Kata kerja rabba ( ÑÈìø ) memiliki beberapa arti, antara lain
mengasuh, mendidik dan memelihara. Di samping kata rabba ada
kata-kata yang serumpun dengannya yaitu rabba ( ÑÈø ) , yang
berarti memiliki, memim-pin, memperbaiki, menambah. rabba ( (ÑÈÇ
juga berarti tumbuh atau berkembang.
Adapun kata at-tarbiyah , yang merupakan bentuk masdar dari
rabba , menurut Imam Baidawi (w. 675 H) dalam kitab Tafsirnya,
Anwarut-Tanzil wa Asrurut-Ta’wil, diartikan sebagai penyampaian
sesuatu pada kesempurnaan secara bertahap atau sedikit demi sedikit.
Menurut Al-Asfahani (w. 502) dalam bukunya, Mufradatur-Ragib,
kata tersebut berarti menjadikan atau mengembangkan sesuatu melalui
proses tahap demi tahap sampai batas kesempurnaannya.
Selanjutnya ‘Abdur-Rahman Al-Bani menerangkan lebih lengkap
bahwa, ditinjau dari asal bahasanya, istilah at-tarbiyah mencakup
empat unsur :
1. Memelihara pertumbuhan fitrah manusia
2. Mengembangkan potensi dan kelengkapan manusia yang beraneka
macam (terutama akal budinya)
懂)
íÈÑ ÈÑ)

17
3. Mengarahkan fitrah dan potensi manusia menuju
kesempurnaannya.
4. Melaksanakan secara bertahap sesuai dengan irama perkembangan
anak. (Al-Nahlawi, 1979 : 13 – 14)
b. Kata kerja ‘allama berarti mengajar yang lebih bersifat pemberian
atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan ketreampilan.
Al-Qur'an sering menggunakan kata-kata ‘allama, misalnya dalam
firman-firman Allah berikut ini :
æóÚóáøóãó ÇÏóãó ÇúáÇóÓúãóÇÁóÂõáøóåóÇ
Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya. (QS. Al-Baqarah :
31)
æóÞóÇáó íÇó íøõåóÇÇáäøóÇÓõ ÚõáøöãúäóÇãóäúØöÞó ÇáØøóíúÑö
Berkatalah Sulaiman : Wahai manusia, telah diajarkan kepada kami pengertian
bunyi burung. (QS. An-Naml : 16)
Úóáøóãó ÇúáÞõÑú Çäó Úóáøóãóåõ ÇúáÈóíóÇäó
Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Mengajarnya pandai berbicara. (QS. Ar-
Rahman : 2 dan 4)
c. Kata kerja addaba dapat diartikan mendidik yang lebih tertuju pada
penyempurnaan akhlaq budi pekerti. Muhammad Naquib Al-Attas
dalam bukunya, Konsep Pendidikan Islam, dengan gigih
mempertahankan penggunaan istilah ta’dib untuk pendidikan Islam,
bukan tarbiyah, dengan alasan bahwa dalam istilah ta’dib, yang
berasal dari kata addaba, mencakup wawasan ilmu yang merupakan
esensi pendidikan Islam.(Al-Attas, 1984 : 60)
4 2
18
Terlepas dari beberapa jauh ketepatan argumen Naquib Al-Attas
mengenai penggunaan istilah ta’dib bagi pendidikan Islam, di sini
tidak ingin diperdebatkan, karena sesungguhnya ketiga istilah atau
kata-kata tersebut (tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib) merupakan satu
kesatuan yang saling terkait. Artinya bila pendidikan dinisbatkan
kepada ta’dib ia harus melalui pengajaran (ta’lim) sehingga
dengannya diperoleh ilmu. Dan dari ilmu yang telah dimiliki
terwujudlah sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan
pendidikan. Hal ini lazim kita kenal sebagai kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Namun mengingat pengertian al-Tarbiyah mencakup empat
unsur sebagaimana dikemukakan Abdur Rahman Al-Bani di atas,
kiranya kata tersebut cukup menggambarkan keluasan dan
ketepatannya. Dengan demikian istilah pendidikan disini dinisbatkan
dengan al-Tarbiyah (Achmadi, 1992:16).
b. Tinjauan Peristilahan
Berdasarkan tinjauan kebahasaan tersebut di atas, pengertian
pendidikan menurut pandangan Islam dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1) Pendidikan ialah tindakan yang dilakukan secara sadar dengan
tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi
(sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya
(insane kamil).
19
2) Pendidikan adalah proses kegiatan yang dilakukan secara bertahap
dan berkesinambungan, seirama dengan perkembangan subjek
didik.
áóÊóÑúÂóÈõäøó ØóÈóÞðÇÚóäú ØóÈóÞò
Sesungguhnya kamu ….. melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (QS.
Al-Insyiqaq : 19).
3) Pendidikan yang sebenar-benarnya (Al-Haq) adalah Allah sebagai
Rabbul ‘alamin. Dia tidak hanya mengatur, tetapi juga membimbng
dan memelihara alam semesta termasuk manusia.
Paradigma ini merupakan esensi ajaran Islam yakni Tauhid
Rububiyyah. Pendidikan merupakan salah satu tugas manusia sebagai
khalifah Allah di muka bumi (khalifatullah fil-ard) dan sekaligus
sebagai ‘ibadah kepada-Nya (QS. Al-Baqarah : 30 dan Az-Zariyat : 56).
Implikasinya dalam pendidikan :
- Pendidikan benar-benar bersifat normative Ilahi karena
berlandaskan pada nilai-nilai Ilahi
- Pendidikan tidak sekadar berorientasi kekinian tetapi juga ukhrawi.
- Pendidikan bertanggung jawab penuh, tidak sekadar kepada sesama
manusia tetapi juga kepada Allah.
- Pendidikan bersifat optimis karena hasil akhir pendidikan di tangan
Allah sendiri.
Allah berfirman :
áóíúÓó Úóáóíúßó åõÏåõãú æóáßöäøó Çááåó íóåúÏöíú ãóäú íøóÔóÇÁõ
Bukankah kamu yang menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi
Allahlah yang memberi petunjuk (QS. Al-Baqarah : 272).
20
- Tugas pendidik yang pokok ialah merencanakan dan melaksanakan
kegiatan pendidikan sesuai dengan Sunnah Allah
(Achmadi,1992:16-17).
2. Hubungan Antara Islam Dan Pendidikan
Islam sebagai agama muncul bersama dengan munculnya manusia,
yaitu ketika Nabi Adam diciptakan dan kemudian oleh Allah diberi
pedoman hidup.
Dengan demikian agama Islam ialah Wahyu Allah yang diturunkan
kepada para Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia agar
mereka selamat dalam hidupnya di dunia maupun di akhirat.
Islam yang sekarang ini adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw., untuk disampaikan kepada umat manusia di
seluruh persada sepanjang masa.
Risalah islamiyyah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., sebagai
Khatamun Nabiyyin (Nabi terakhir), memiliki prinsip-prinsip ajaran yang
sama dengan yang dibawa oleh para nabi terdahulu yakni, Tauhid dan
Ta’abbud Allahah. Secara keseluruhan ajaran yang dibawa Nabi
Muhammad merupakan kesinambungan, kelengkapan, dan
penyempurnaan ajaran nabi terdahulu. Semua itu merupakan satu sistem
keyakinan dan ketentuan ilahi yang mengatur segala aspek kehidupan dan
penghidupan asasi manusia dalam berbagai hubungan : hubungan manusia
dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya
(flora, fauna dan benda-benda alam lainnya).
21
Tujuan Risalah Islamiyyah tidak lain adalah mengangkat harkat dan
martabat manusia, sehingga tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat serta terwujudnya rahmatan lil-‘alamiin.
Untuk itu Risalah Islamiyyah, yang pada hakekatnya sesuai dengan
fitrah manusia (Q.S. Ar-Ruum:30) mengandung nilai-nilai universal dan
eternal yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
Tetapi perlu diketahui bahwa Risalah Islamiyyah seperti pengertian
tersebut diatas merupakan konsep transedental yang baru akan berdaya
guna dan berhasil guna bila telah diseharikan dalam kehidupan nyata oleh
individu dan masyarakat.
Proses penyeharian dan aktualisasi konsep transedental ini dalam
kehidupan individu dan masyarakat dapat terjadi lewat pendidikan.
Langkah awal dan mendasar telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad
saw. dan telah terlihat hasilnya, karena beliau mampu mengkomunikasikan
Islam agama fitrah kepada fitrah manusia.
Zaman terus berkembang, persepsi manusia pun terus mengalami
perubahan seirama dengan tantangan yang dihadapi. Sesungguhnya Islam
sebagai agama fitrah memiliki daya akomodatif yang tinggi terhadap
segala perubahan dan tantangan zaman itu.
Tetapi masalahnya dalam pendidikan tidak sesederhana itu, belum
tentu yang benar dan baik diterima oleh subyek didik sebagaimana
mestinya. Nabi sendiri mengalami banyak kesulitan dan hambatan dalam
22
melaksanakan pendidikan dan Allah sendiri telah mengingatkan dalam
firman-Nya:
ÇõÏúÚõ ÇöáìÓóÈöíúáö ÑóÈöøßó ÈöÇúáÍößúãóÉö æóÇúáãóæúÚöÙóÉö ÇúáÍóÓóäóÉö
Ajaklah (manusia) kepada Jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijaksana) dan pelajaran
yang baik …….. (Q.S. An Nahl : 125).
Di sinilah lahan garapan yang menuntut para pendidik muslim untuk
menyusun konsep pendidikan Islami yang sesuai dengan perubahan zaman
serta tantangannya dan mampu menatap masa depan tanpa mengorbankan
nilai-nilai asasnya (Acmadi,1992:18-19).
3. Pengertian Pendidikan Islam.
Kenyataan menunjukkan bahwa dewasa ini sering dijumpai adanya
kerancuan dalam penggunaan istilah “Pendidikan Islam”. Bila kita
menyebut pendidikan Islam konotasinya sering dibatasi pada “Pendidikan
Agama Islam”. Padahal bila dikaitkan dengan kurikulum pada lembaga
pendidikan formal atau non-formal, Pendidikan Agama Islam hanya
terbatas pada bidang-bidang studi agama seperti tauhid, fiqih, tarikh Nabi,
membaca Al Qur’an, Tafsir dan Hadits.
Bertolak dari Risalah Islamiyyah yang bertujuan mengantarkan
manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta mewujudkan
rahmatan lil’alamin, maka timbul pertanyaan, apakah semua itu akan
tercapai hanya dengan pendidikan agama. Selain itu, menginga potensipotensi
yang telah dianugerahkan Tuhan kepada manusia memang
dipersiapkan untuk mengatasi berbagai masalah hidup dan kehidupan
23
manusia yang begitu kompleks, apakah cukup hanya dikembangkan
melalui pendikan agama.
Pendidikan agama memang sangat penting, dan strategik dalam
rangka menanamkan nilai-nilai spiritual Islam, tetapi hal ini baru
merupakan sebagian dari seluruh kerangka pendidikan Islam.
Bertolak dari pengertian pendidikan menurut padangan Islam
sebagaimana telah diuraikan di atas, dan mengingat betapa kompleksnya
Risalah Islamiyyah maka sebenarnya yang dimaksud dengan pengertian
pendidikan Islam ialah : “Segala usaha untuk memelihara dan
mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada
padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai
dengan norma Islam”.
Konsep manusia seutuhnya dalam pandangan Islam dapat
diformulasikan secara garis besar sebagai manusia beriman dan taqwa
serta memiliki berbagai kemampuan yang teraktualisasi dalam
hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam
sekitarnya secara baik, positif, dan konstruktif. Demikianlah manusia
produk pendidikan Islam yang diharapkan pantas menjadi khalifatullah filard
(Achmadi, 1992:19-20).
Pengertian tersebut sejalan dengan konsepsi baru hail Konferensi
Dunia pertama tentang pendidikan Islam tahun 1977 di Mekkah ; yang
menyatakan bahwa :”Istilah pendidikan Islam tidak lagi hanya berarti
pengajaran teotologik atau pengajaran Al Qur’an, Hadits dan Fiqih, tetapi
24
memberi arti pendidikan di semua cabang ilmu pengetahuan yang
diajarkan dari sudut pandang Islam (Ali Asyraf, 1989:85-86).
Adapun pengertian pendidikan agama Islam ialah “usaha yang lebih
dikhusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman subjek
didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan
ajaran-ajaran Islam.” Implikasi dari pengertian ini, pendidikan agama
Islam merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan
Islam. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pendidikan agama
Islam berfungsi sebagai jalur pengintegrasian wawasan Islam dengan
bidang-bidang studi (pendidikan) yang lain. Implikasinya lebih lanjut,
pendidikan agama harus sudah dilaksanakan sejak dini sebelum anak
memperoleh pendidikan atau pengajaran ilmu-ilmu yang lain (Achmadi,
1992:19-20).
F. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat library research artinya penelitian terhadap
bahan-bahan tertulis yang dipublikasikan dalam bentuk buku dan CD,
khususnya buku-buku karya Ibn Qayyim. Tesis ini fokus penelitiannya adalah
Model Pemikiran Internal (MPI), artinya lebih menitikberatkan pada unsur
internal dari pemikiran Ibn Qayyim. Metode penelitian dengan metode
hermeneutik, yaitu menggunakan logika linguistik dengan membuat
penjelasan dan pemahaman terhadap makna kata dan makna bahasa sebagai
bahan dasar. Pendekatan yang digunakan adalah pendekan filosofis, artinya
25
seluruh substansinya memerlukan olahan filosofi atau teoretik dan terkait pada
nilai (Noeng Muhajir, 2002:297, 314).
1. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas dua macam.
a. Sumber Primer
Sumber primer dalam penelitian ini adalah kitab-kitab karya Ibn
Qayyim. Karyanya berjumlah 96 kitab dalam berbagai disiplin ilmu,
untuk lebih mendekati dengan fokus penelitian yang berkaitan dengan
pendidikan, dipilih beberapa judul, diantaranya; Tuhfah al-Maudud bi
Ahkam al-Maulud (Hadiah Kasih-sayang dengan hukum-hukum bagi
anak yang baru lahir), pembahasannya masalah pendidikan anak.
Miftah Dar al-Sa’adah (Kunci Rumah Kebahagiaan) diantara
pembahasannya masalah keutamaan ilmu dan pendidikan, al-Tibb al-
Nabawi (Pengobatan metode Nabi), diantara pembahasannya
pendidikan seksual, al-Furusiah (Pacuan Kuda), pembahasannya
masalah pendidikan olahraga. Madarij al-Salikin (Tahapan Pejalan),
diantara pembahasannya masalah pendidikan Iman, akhlak dan
kehendak. Raudhah al-Muhibbin fi Nuzhah al-Musyttaqin (Taman
Pecinta untuk hiburan bagi orang yang rindu), pembahasannya
masalah pendidikan remaja. al-Fawaid (Beberapa Faidah), diantara
kajiannya masalah pendidikan jasmani, rohani dan akal.
Adapun buku yang memuat konsep para pakar pendidikan modern
adalah Aliran Baru dalam Pendidikan karya Ag. Soejono dan
26
Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer
ditulis sejumlah penulis dengan penyunting Ruswan dan Darmu’in.
Penelitian terhadap para tokoh pendidikan Islam yang hidup sebelum
Ibn Qayyim, yaitu al-Qabisi, Ibn Qayyim, dan al-Ghazali merujuk
kepada buku Perbandingan Pendidikan Islam karya Ali al-Jumbulati,
Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam karya Muhammad Jawwad
Ridha, Beberapa pemikiran tentang Pendidikan Islam dan Pendidikan
Islam Menghadapi Abad ke 21 keduanya karya Hasan Langgulung.
b. Sumber Sekunder
Sumber sekunder dalam penelitian ini adalah bahan pustaka yang
merujuk atau yang mengutip kepada sumber primer. Dalam hal ini
seperti laporan penelitian yang memuat tentang pemikiran pendidikan
Islam menurut Ibn Qayyim. Buku yang dijadikan refrensi diantaranya
Manhaj Tarbiyah Ibn Qayyim karya Hasan Ibn Ali Al-Hijazy. Buku
Mutiara Hikmah Kitab Madaris Salikin karya Shalah Syadi. Buku
Hakikat Musibah menurut Ibn Qayyim karya Abd al-Illah Ibn Usman.
Buku Ibn Qayyim al-Jauziyyah: Hayatuhu wa Atsaruhu karya Bakar
Ibn Abdillah
2. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam MPI (Penelitian Pemikiran Internal) digali
dari sumber kepustakaan. Berkenaan dengan hal itu, pengumpulan data
dilakukan melalui beberapa tahap sebagai berikut:
27
a. Mengumpulkan bahan pustaka yang dipilih sebagai sumber data yang
memuat konsep pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim.
b. Memilih bahan pustaka untuk dijadikan sumber data primer, yakni
karya Ibn Qayyim. Disamping itu dilengkapi oleh sumber data
sekunder yakni buku-buku yang membahas tentang pemikiran
pendidikan Islam, baik pemikran Ibn Qayyin maupun tokoh-tokoh
sebelumnya dan buku-buku yang membahas tentang konsep
pendidikan modern.
c. Membaca bahan pustaka yang telah dipilih, baik tentang substansi
pemikiran maupun unsur lain. Penelaahan isi salah satu bahan pustaka
dicek oleh bahan pustaka lainnya.
d. Mencatat isi bahan pustaka yang berhubungan dengan pertanyaan
penelitian. Pencatatan dilakukan sebagaimana yang tertulis dalam
bahan pustaka bukan berdasarkan kesimpulan.
e. Menerjemahkan isi catatan ke dalam bahasa Indonesia dari kitab Ibn
Qayyim yang berbahasa Arab.
f. Menyarikan isi catatan yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia.
g. Mengklasifikasikan data dari sari tulisan dengan merujuk kepada
rumusan masalah.
3. Analisis Data
Langkah pertama dengan mengumpulkan data tentang konsep
pendidikan menurut pakar pendidikan sebelum Ibn Qayyim. Data yang
28
dikumpulkan tersebut akan dianalisis secara kualitatif. Hasil analisisnya
disamping sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan dalam rumusan
masalah, juga sebagai studi komperatif dengan konsep pendidikan Ibn
Qayyim.
Langkah kedua memfokuskan penelitian terhadap konsep-konsep
pendidikan Ibn Qayyim dengan mempelajari dan menganalisis uraianuraian
serta pendapatnya baik dari buku yang ditulis Ibn Qayyim (data
primer) maupun yang berisi pembahasan pemikiran pendidikan Ibn
Qayyim yang ditulis orang lain (data sekunder).
Langkah ketiga, hasil analisis tentang konsep pendidikan Ibn
Qayyim dilihat relevansinya dengan konsep pendidikan modern yang
terdapat di berbagai buku pendidikan yang ditulis oleh pakar-pakar
pendidikan modern.
Dengan demikian hasil analisanya secara keseluruhan dapat
dijadikan sebagai bahan jawaban atas tiga pertanyaan yang diajukan dalam
rumusan masalah.
G. Sistematika Pembahasan
Sistematika penulisan tesis ini dibagi menjadi 5 (lima) bab guna
memberikan gambaran yang komprehensif, yaitu :
Bab I : Berisi pendahuluan yang membahas latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penulisan tesis ini, studi
pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika
pembahasan.
29
Bab II : Konsep pendidikan Islam menurut para pakar sebelum Ibn Qayyim.
Bab ini diuraikan tentang konsep pendidikan menurut tokoh-tokoh
pemikir Islam sebelum Ibn Qayyim, yaitu Al-Qabisi, Ibn Sina, dan
Al-Ghazali.
Bab III : Konsep pendidikan Islam menurut Ibn Qayyim.
Bab ini diawali dengan biografi singkat Ibn Qayyim, kemudian
dijelaskan tentang konsep pendidikan Ibn Qayyim ditinjau dari
lima unsur pendidikan yaitu dasar dan tujuan pendidikan, alat
pendidikan, lingkungan pendidikan, pendidik dan peserta didik.
Bab IV : Relevansi konsep pendidikan Ibn Qayyim dengan pendidikan
modern.
Bab ini dianalisa konsep pendidikan Ibn Qayyim dari sudut
pandang pendidikan modern.
Bab V : Penutup yang berisi kesimpulan yang berupa hasil penelitian serta
saran-saran dan rekomendasi.


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email