GANGREN DAN PERAWATAN LUKA GANGREN

GANGREN DAN PERAWATAN LUKA GANGREN
poko rantau 
15 - 10 -2011
Komplikasi Diabetes Mellitus (DM) yang paling berbahaya adalah komplikasi pada pembuluh darah. Pembuluh darah besar maupun kecil ataupun kapiler penderita DM mudah menyempit dan tersumbat oleh gumpalan darah (angiopati diabetik)
Jika sumbatan terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai (makroangopati diabetik) tungkai akan lebih mudah mengalami gangren diabetik, yaitu luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk. Bila sumbatan terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar, penderita DM akan merasa tungkainya sakit sesudah ia berjalan pada jarak tertentu, karena aliran darah ke tungkai tersebut berkurang dan disebut claudicatio intermitten.
Beberapa faktor secara bersama-sama berperan pada terjadinya ulkus/gangren diabetes. Dimulai dari faktor pengelolaan penderita DM terhadap penyakitnya yang tidak baik, adanya neuropati perifer dan autonom, faktor komplikasi vaskuler yang memeperburuk aliran darah ke kaki tempat luka, faktor kerentanan terhadap infeksi akibat respons kekebalan tubuh yang menurun pada keadaan DM tidak terkendali, serta kemudian faktor ketidaktahuan pasien sehingga terjadi masalah gangren diabetik.
Secara umum, gangren diabetik biasanya terjadi akibat triad berikut : 
·         Neuropati perifer
·         Insufisiensi Vaskuler Perifer (Iskemik)
·         Infeksi
Penderita yang beresiko tinggi mengalami gangren diabetik adalah :
·         Lama penyakit diabetes yang melebihi 10 tahun
·         Usia pasien yang lebih dari 40 tahun
·         Riwayat merokok
·         Penurunan denyut nadi perifer
·         Penurunan sensibilitas
·         Deformitas anatomis atau bagian yang menonjol (seperti bunion atau kalus)
·         Riwayat ulkus kaki atau amputasi
·         Pengendalian kadar gula darah yang buruk
Rangkaian yang khas dalam proses timbulnya gangren diabetik pada kaki dimulai dari cedera pada jaringan lunak kaki, pembentukan fisura antara jari-jari kaki atau di daerah kulit kering, atau pembentukan sebuah kalus. Jaringan yang terkena mula-mula menjadi kebiruan dan terasa dingin bila disentuh. Kemudian, jaringan yang mati, menghitam dan berbau busuk.
Cedera tidak dirasakan oleh pasien yang kepekaannya sudah menghilang dan bisa berupa cedera termal, cedera kimia atau cedera traumatik. Pengeluaran nanah, pembengkakan, kemerahan (akibat selulitis) atau akibat gangren biasanya merupakan tanda pertama masalah kaki yang menjadi perhatian penderita.
Gangren diabetik diklasifikasikan menjadi lima tingkatan, yaitu :
Klasifikasi gangren diabetik lain (gabungan dari klasifikasi Wagner dan Liverpool) :

Penyembuhan luka selalu terjadi melalui tahapan yang berurutan mulai dari proses inflamasi, proliferasi, pematangan dan penutupan luka. Pada gangren, tindakan debridement yang baik sangat penting untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang memadai. Prinsip dasar pengelolaan gangren diabetik, adalah :
·         Evaluasi keadaan luka dengan cermat
o    keadaan klinis luka
o    dalamnya luka
o    gambaran radiologi (adakah benda asing, osteomielitis, gas subkutis)
o    lokasi luka
o    vaskularisasi luka
·         Pengendalian keadaan metabolik sebaik-baiknya
·         Debridement luka yang adekuat dan radikal, sampai bagian yang hidup
·         Biakan kuman baik aerob maupun anaerob
·         Antibiotik yang adekuat
·         Perawatan luka yang baik, balutan yang memadai sesuai dengan tingkat keadaan luka
·         Mengurangi edema
·         Non weight bearing : tirah baring, tongkat penyangga, kursi roda, alas kaki khusus, total contact casting
·         Perbaikan sirkulasi-vasculer surgery
·         Tindakan bedah rehabilitatif untuk memperbaiki kemungkinan dan kecepatan penyembuhan
·         Rehabilitasi
Peran perawat dalam perawatan luka gangren adalah mencegah komplikasi
akibat luka gangren dengan menerapkan teknik aseptik pada tiap perawatan luka, selain itu perawat harus mampu menjadi educator bagi pasien, dan memberi asuhan keperawatan secara holistik.
Cara perawatan gangren diabetik :
1.      Persiapan bahan dan alat :
1.      Pinset anatomi 1 buah dan pinset cirurgis 1 buah
2.      Gunting Arteri 1
3.      Cucing
4.      Persegi satu buah
5.      Kom satu buah
6.      Bengkok
7.      Larutan NaCl 0,9 %
8.      Sarung tangan satu pasang
9.      Spuit 50 cc
10.  Kassa
11.  Alkohol 70 %
12.  Metronidazole powder
13.  Duoderm gel
14.  Kaltostat, Aquacel
15.  Pembalut Duoderm CGF
16.  Duoderm Paste
17.  Duk steril
2. Tindakan
Cara Perawatan Luka :
·         Letakkan cucing (dua buah), kapas, kassa, pinset anatomis, gunting di atas duk steril.
·         Isi cucing dengan kapas dan larutan NaCl
·         Cuci luka dengan cairan NS (NaCl 0,9%) sambil digosok secara lembut dengan tangan yang terbungkus sarung tangan
·         Jika luka berongga gunakan tube (NSV bayi atau folley kateter anak) & spuit 50 cc
·         Keringkan luka dgn kassa secara lembut (ditutul), jangan digosok.
·         Bersihkan kulit utuh sekeliling luka dgn alkohol 70% (radius 3-5cm dari tepi luka)
·         Taburi dasar luka dgn metronidazole powder (500 mg) secara merata untuk mengurangi bau pada luka.
·         Isi rongga luka/dasar luka dengan Duoderm Hydroactive gel sampai 1/2 kedalaman rongga luka
·         Campurkan Duoderm Hydroactive gel dengan metronidazole powder (500mg) dlm cucing steril.
·         Isikan ke dalam luka sampai terisi ½ kedalaman luka
·         Tutup luka dengan absorbent dressing:
- Kaltostat
- Aquacel
·         Masukkan Kaltostat rope / Aquacel (absorbent as primary dressing) ke dalam rongga luka (fill dead space) & di atas luka untuk mengabsorbsi exudate yg berlebihan.
·         Sisakan 1 cm absorbent dari tepi rongga luka.
·         Tutup dgn pembalut: Duoderm CGF Extrathin secara tepat untuk memberikan moist environment. Jangan menarik pembalut.
·         Berikan penekanan ringan secara merata pada pembalut selama 30 detik agar melekat rata dipermukaan kulit
·         Jika warna dasar luka merah (granulasi) namun masih cekung beri Duoderm Paste scr merata diatas permukaan luka.
·         Tutup absorbent jika perlu.
·         Tutup dgn Duoderm CGF secara tepat
·         Ganti pembalut jika telah jenuh oleh exudate.
·         Jadwal penggantian balutan dapat ditentukan setiap 3 - 7 hari sekali, tergantung warna dasar luka dan jumlah exudate.
3.      Dokumentasi keadaan luka, dan perawatan luka
Sebagai educator bagi pasien, perawat memberi informasi tentang pentingnya nutrisi bagi kesembuhan luka dan pemberian terapi antibiotik. Penderita gangren disarankan untuk tirah baring, dan menhjaga kesehatan (terutama gula darahnya). Nutrisi yang diberikan harus sesuai prinsip 3 J (Jumlah kalori, Jadwal diit, dan Jenis makanan).
Pencegahan jauh lebih disukai daripada penyembuhan. Beberapa faktor resiko untuk penyakit vaskuler perifer pada pasien DM tidak dapat diobati, misalnya usia dan lamanya menderita DM, tetapi banyak faktor resiko laon yang dapat ditangani misalnya merokok, hipertensi, hiperlipidemia, hiperglikemia, dan obesitas.
Pendidikan tentang perawatan kaki merupakan kunci mencegah ulserasi kaki. Perawatan kaki dimulai dengan mencuci kaki dengan benar, mengeringkan dan menminyakinya (menggunakan lotion), kemudian inspeksi kaki tiap hari (periksa adanya gejala kemerahan, lepuh, fisura, kalus atau ulserasi), memotong kuku dengan hati-hati. Pasien disarankan untuk mengenalan sepatu yang pas dan tertutup pada bagian jari kaki. Perilaku beresiko tinggi harus dihindari, misalnya : berjalan tanpa alas kaki, menggunakan bantal pemanas pada kaki, mengenakan sepat terbuka pada bagian jarinya, memangkas kalus.
Cara perawatan luka gangren ala RS DR Soetomo : (dipake wat penjelasan foto asli gangren)
1.      buka balutan dengan hati-hati, karena dapat menarik jaringan yang sudah bergranulasi. Bila lengket siram dengan larutan NaCl
2.      Inspeksi luka, perhatikan mana yang sudah bergranulasi dan bagian yang masih bernanah.
3.      Ambil bola kapas yang sudah direndam savlon. Lalu basuh dan bersihkan luka klien dengan hati2. Bila jaringan sudah bergranulasi yang ditandai dengan warna merah maka cukup ditutul. Bila jaringan yang nekrotik dan bernanah maka luka harus dicuci. Gunakan tangan kiri untuk mengambil alat steril, tangan kanan untuk ke luka pasien.
4.      Lakukan hingga 3 kali, kemudian palpasi luka. Terutama bagi luka yang bernanah. Untuk mengeluarkan pus, klien diminta menggerakkan pergelangan kakinya (atas bawah). Bila klien tidak bisa, maka perawat dapat menekan sambil mendorong mulai dari anterior ke superior mengarah ke tempat keluarnya pus.
5.      Gunting jaringan nekrotomi, dan jaringan yang menghambat keluarnya nanah. Apabila ada asisten, maka asisten dapat membantu dengan menekan sambil mendorong pus keluar
6.      Lakukan hingga jaringan nekrotomi terbuang semua, dan pus sudah keluar. Bilas dengan larutan NaCl.
7.      Keringkan luka dengan kassa.
8.      Balut luka dengan ditutup kassa. Untuk primary dressing, gunakan kassa kering untuk menutupi seluruh luka, sedangkan untuk secondary dressing gunakan perban.
9.      Dokumentasikan keadaan luka pasien.



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email