Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) dalam pembelajaran


A.    Rasional Penerapan Pendekatan KeterampilanProses (PKP) dalam pembelajaran
Pendekatanpembelajaran proses adalah pendekatan yang menekankan penggunaan keterampilanmemproseskan perolehan dalam pembelajaran yang dikembangkan sebagai konsepterlaksana untuk menerapkan pendekatan CBSA. Oleh karena itu, alasandikembangkannya PKP ini tidak berbeda secara rasional Pendekatan CBSA. Rasionalpenerapan PKP dalam pembelajaran (Conny Semiawan, dkk, 1985: 14-16; Moedjionodan Moh. Dimyati, 1992/1993: 12-14) sebagai berikut ;
1.      Percepatan perkembangan Ilmu pengetahuanmenyebabkan bahan ajar, yang bersumber dari ilmu pengetahuan itu makin banyak(makin luas dan atau mendalam) sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkansemua fakta dan konsep itu kepada muridnya dalam pembelajaran di sekolah. Kalauguru tetap berusaha mengajarkan semua fakta dan konsep itu, maka guru biasanyamemilih cara praktis dengan metode ceramah. Akibatnya murid mengetahui banyakfakta dan konsep yang daiajarkan itu, tetapi murid tidak dilatih untukmenemukan dan atau mengembangkan fakta, konsep, dan atau prinsip, dengan katalain, tidak dilatih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

2.      Perkembangan kognitif murid SD-MI yang masihberada pada tahap operasi konkrit sehingga masih memerlukan contoh nyata untukdapat memahami konsep yang abstrak dan rumit, utamanya dengan memperaktekkansendiri upaya menemukan konsep itu. Hal itu sesuai dengan salah satu prinsipPKP yakni perkembangan kognitif sesungguhnya dilandasi oleh gerakan danperbuatan, seperti pendapat Jean Piaget “….. mengetahui sesuatu obyek tak laindaripada memperlakukannya”; esensi pengetahuan adalah aktivitas, baik fisikterutam mental. Tugas guru adalah menyiapkan suatu lingkungan belajar yangmenggiring murid bertanya, mengamati, mengadakan percobaan, dll untuknmenemukan fakta, konsep, dan atau prinsip. Murid mulai belajar menjadi seorang‘ilmuwan’.

3.      Penemuan ilmu pengetahuan hanyalah suatubkebenaran relatif yang masih tetap terbuka untuk dikaji dan diuji kembali. Haltersebut menuntut suatu sikap ilmiah dari para ilmuwan yakni mampu dan maumengkaji dan menguji kembali sesuatu yang telah dianggap benar. Sikap ilmiahitu seharusnya mulain ditanamkan pada setiap murid SD-MI. Dari sisi ini, muridmulai dibiasakan untuk mempertanyakan dan mencari kemungkinan-kemingkinan lain,dengan kata lain, murid dibiasakan untuk berpikir dan bertindak kreatif.

4.      Setiap pembelajaran harus tetap berusaha untukmengembangkan kepribadian murid secara holistic. Meskipun suatu pembelajaranberada dikawasan ranah ataub psikomotorik. PKP yang menekankan pengembanganketerampilan memproseskan perolehan (kawasan Psikomotorik ; ketrampilanfisik/intelektual) akan berperan sebagai wahana penyatukait antarapengemabangan konsep (ranah kognitif) dan pengembangan sikap dan nilai (ranahefektif).

Demikianlahbeberapa alasan yang mendorong dikembangkannya PKP sebagai konsep terlaksananyapenerapan Pendekatan CBSA, namun bukanlah pengaktifan murid yang “…. Tanpa isi,tanpa pesan, tanpa rancangan, dan tanpa arah. ……(tetapi) yang dipraktekkanadalah cara belajar siswa aktif yang mengembangkan keterampilan prosesperolehan.” (Conny Semiawan, dkk, 1985 :16). Pembelajaran aktif bermakna itumenuntut aktivitas murid yang bukan hanya bersifat fisik, melainkan yang utamaadalah keterlibatan mental (intelektual dan atau emosional). Pembelajaran yangbermakna itu akan menumbuhkan prakarsa dan kreativitas murid dalampembelajaran, serta akan mendorong perkembangan mental yang kadarnya tinggidalam 2 (dua) komponen penting yakni
a.      Berpikir kritis dalam mencari kebenaran fakta,konsep, prinsip dan atau teori.
b.      Kreativitas dalam mencari kebermakanaan(siler, 1990, dan lipman, 1991, dari Corny R.Semiawan, 1993: 17-19). Sepertidiketahui, proses berpikir dapat dibedakan dalam 2 (dua) fungsi utama, yakni
-         Berpikir kritis,rasional logis, konvergen (memusat) sebagai fungsi utama dari belahan otakkiri, dan
-         Berpikir kreatif,divergen (memancar) sebagai fungsi utama dati otak kanan.
Keduasisi fungsi berpikir itu saling melengkapi dan merupakan satu kesatuan, dankeduanya seharusnya dikembangkan secara seimbang, serasi dan selaras dalampembelajaran SD-MI, diperoleh kesan bahwa berpikir kreatif belum cukupdikembangkan.

B.     Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses(PKP)
Pendekatanketerampilan proses adalah pendekatan pembelajaran yang mengutamakan penerapanberbagai keterampilan memproseskan perolehan dalam pembelajaran itu.“keterampilan memproseskan perolehan adalah suatu konsep terlaksana yang dapatmembantu kita untuk menerpkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) …” (conysemiawan, 185: 3). Penerapan PKP dalam pembelajaran member penekanan agar dalampembelajaran itu para murid dilatihkan keterampilan-keterampilan mendasar yangbiasa dipergunakan para ilmuwan dalam menghasilkan penemuan-penemuan besardalam ilmu pengetahuan, seperti: ‘pemutarnbalikan’ Copernicus yang mengemukakanbahwa bukan matahari yang mengedari bumi (seperti anggapan umum pada saat itu)tetapi terbalik: bumi yang mengedari matahari, atau penemuan ketidaksadaran (Id/Das Unbewuzte) oleh Sigmund Freud denganaliran Psikonalisa, atau penemuan gagasan koperasi olehb Muhammad Hatta (BungHatta), dsb penemuan-penemuan besar itu dilakukan karena para ilmuwan tersebutmenguasai berbagai keterampilan mendasar (fisik dan atau mental), meskipunpenguasaan fakta, konsep, prinsip dan atau teori dalam bidangnya mungkin masihterbatas.
Keterampilan-keterampilanmendasar yang dikuasai para ilmuwan itu pada prinsipnya terdapat juga dalamdiri anak, hanya masih potensial dan atau masih sederhana dan belum berkembang.Kalau diperhatikan seorang anak dan seorang ilmuwan menyelidiki sesuatudisekitarnya, umpama seekor kupu-kupu, maka keduanya didorong oleh hasrat ingintahu yang besar, serta pada dasarnya keduanya menggunakan keterampilan prosesyang sama, yakni kemungkinan keduanya mengamati, menghitung, mengukur, dsb.Perbedaannya hanyalah bahwa para ilmuwan menggunakan keterampilan prose situdengan lebih intensif dan berkualitas.
Parailmuwan bekerja dengan landasan teoritis, lebih terarah dan sistimatis, seperti: ilmuwan itu merumuskan masalah, membuat hipotesis, melakukanpenelitian/eksperimen, serta mengumpulkan, mengolah, dan menginterprertasidata, dan sebagainya,. Intensitas dan kualitas penguasaan keterampilan prosesitulah yang mengahantar para ilmuwan mengahsilkanm penemuan-penemuan bear dalamilmu pengetahuan.
Pembelajarandi SD-MI seyogianya secara dini menumbuhkan dan menerapkan PKP dalampembelajarannya. Dengan penerapan PKP dalam sendiri fakta, konsep, dan atauprinsip (pengembangan pengetahuan-pemehaman dalam rannah kognitif), dan seiringdengan itu, pembelajaran itu berangsur tapi berlanjut akan mengembangkan sikapdan nilai pada siswa yang relevan seperti cermat, teliti, jujur, dansebagainya. Dengan kata lain, pembelajaran yang semula menggunakan berbagaiketerampilan proses ( fisik, social, dan intelektual dalam ranah psikomotorik),akan mengahantar murid pada suatu pengetahuan-pemahaman (dalam ranah kognitif),serta seiring dengan itu menumbuhkan pula sikap dan nilai yang relevan (dalamranah Afektif). “ seluruh irama gerak atau tindakan dalam prosesbelajar-mengajar seperti ini akan menciptakan kondisib cara belajar siswaaktif. Inilah sebenarnya yang dmaksudkan dengan Pendekatan Proses” (connysemiawan, dkk, 1985: 18).. pendekatan prose situ akan mengembangkan kreativitasmurid, yang pada gilirannya, akan menjadi landasan untukn pengembangankepribadiaannya secara keseluruhan.

Terdapatbeberapa manfaat yang dapat dicapai dengan menerapkan PKP dalam pembelajaran diSD-MI (Funk, 1985: dari Moedjiono dan Moh. Djimyati, 1992/1993: 14) sebagaiberikut :
1.     Dengan penerapanPKP dalam pembelajaran, murid akan memperoleh pengertian yang tepat tentanghakekat ilmu pengetahuan.
2.     Dengan penerapanPKP dalam pembelajaran berarti murid bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidaksekadar memperoleh informasi tentang ilmu pengetahuan itu.
3.     Dengan penerapanPKP dalam pembelajaran , murid secara serentak belajar tentang proses danproduk ilmu pengetahuan.

PenerapanPKP dalam pembelajaran akan menempatkan murid sebagai ‘ilmuwan’ dalammengetahui ilmu pengetahuan itu, dengan kata lain, murid berperan sebagaiprodusen bukan sekadar penerima ilmu pengetahuan.

KeterampilanProses dan Penerapannya dalam Pembelajaran SD-MI
Keterampilanproses adalah keterampilan mendasar yang dipergunakan para ilmuwan untuknmenghasilkan pertemuan penting dalam ilmu pengetahuan. Keterampilan ituseyogyanya diterapkan dalam pembelajaran di SD-MI sehingga murid dapatmemproseskan perolehannya, dan seiring dengan itu mulai mengembangkanketerampilan proses tersebut secara bertahap dan berlanjut sehingga makinberkualitas mendekati kualitas keterampilan yang dimiliki para ilmuwan.

C.      Jenis-jenis keterampilan Proses
Terdapatberbagai keterampilan proses yang perlu diterapkan dalam pembelajaran yangmenggunakan Pendekatan Keterampilan Prose situ (conny semiawan, dkk, 1985:19-43; Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992/1993: 15-19) sebagai berikut :

1.      Observasi atau pengamatan
Sebagaiketerampilan ilmiah yang mendasar, mengobservasi atau mengamati adalahpenggunaan semua alat indera (untuk melihat, mendengar, meraba, mencium, danatau mengecap) dengan seksama untuk memilah-milahkan sesuatu yang penting dariyang kurang/tidak penting. Murid dalam kehuidupannya sehari-hari pasti banyakmelihat benda, binatang, tumbuhan, dan atau orang di sekitarnya, atau mendengarkicauan burung, bunyi klakson kendaraan, dll itu hanya sepintas dan kurangsaksama, sehingga kegiatan itu bukan observasi atau pengamatan. Prasyarat utamadalam observasi adalah pemusatan perhatian, ketelitian, dan kecermatan dalammelihat, mendenga, dan sebagainya sehingga dapat memilihkan yang penting dariyang lainnya. Murid seharusnya dilatih melalui pembelajaran untuk melakukanobservasi atau pengamatan dengan cermat dan terarah, dan tidak sekadarmelihat/mendengar sesuatu itu sepintas lalu.

2.      Penghitungan
Menghitungmerupakan keterampilan mendasar yang banyak sekali dipergunakan para ilmuwandalam bekerja. Oleh karena itu, menghitung harus dilatihkan melaluipembelajaran di SD-MI, bukan hanya dalam pembelajaran matematika tetapi jugapembeljaran lainnya, seperti dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam(menghitung jumlah daun, kaki belalang, dsb), pembelajaran ilmu pengetahuansosial(menhitung jumlah anggota keluarga, penduduk satu wilayah), pembelajaranBahasa Indonesia (menghitung jumlah kata dalam setiap kalimat, jumlah kalimatdalam satu alinea, dsb), dan lain-lain. Hasil perhitungan itu dapat dilaporkandengan membuat table, grafik, dan atau histogram, tingkat kesulitanpenghitungan itu harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuanmurid, di kelas-kelas awal dengan penghitungan sederhana, sedangkan untukkelas-kelas lanjut dengan penghitungan dan cara pelaporan yang lebih rumit.
3.      Pengukuran
Keterampilanpengukuran adalah salah satu ketrampilan penting dan banyak dipergunakan parailmuwan dalam pekerjaannya. Oleh karena itu, keterampilan pengukuran harusmenjadi bagian penting dalam pembelajaran di SD-MI. Pengukuran didasarkan padaperbandingan, seperti membandingkan panjang, luas, volume dari benda,membandingkan kecepatan, suhu, dan sebagainya. Melatih murid melakukan berbagaipengukuran haruslah menjadi bagian penting dalam pembelajaran SD-MI. Pelatihanpengukuran itu dilakukan secara bertahap, pada awlanya hanya membandingkanpanjang, besar, dll bertahap benda di sekitarnya, kemudian mulai diperkenalkandengan ukuran seperti meter, gram, liter, dll yang disesuaikan dengan tingkatperkembangan dan kemampuan murid.

4.      Klasifikasi
Keterampilanklasifikasi atau menggolongh-golongkan sesuatu merupakan pekerjaan rutin serangilmuwan, dan karena itu Murid SD-MI sejak harus diperkenalkan denganketerampilan klasifikasi ini. Murid harus terlatih melihat persamaan danperbedaan sesuatu sebagai dasar klasifikasi itu, baik berdasarkan cirri khusus,tujuan, maupun untuk kepentingan tertentu. Melalui  pembelajaran, murid ditugaskan melakukanpenggolongan berbagai benda di sekitarnya, umpama daunan berdasarkan bentuknya,dan sebagainya. Dengan demikian, murid akan terlatih mengamati sesuatu secaracermat, mengenal persamaan dan perbedaan benda-benda tersebut, serta mampumenggolong-golongkannya sesuai cirri-ciri khususnya masing-masing. Di kelasawalm, cara klasifikasi yang ditugaskan masih sederhana, dan makin lanjut kelasdan dengan kemampuan murid yang mulai berkembang, tugas klasifikasi makinsulit, baik isi tugasnya maupun cara pengolahan hasil klasifikasi itu dalampelaporan.




5.      Pengenalan Ruang dan Waktu serta HubunganKeduanya
Keterampilanberkaitan dengan pengenalan bentuk-bentuk ruang (lingkaran, persegi empat, segitiga, kubus, silinder, dll termasuk keterampilan yang sering dipergunakanilmuwan dalam bekerja. Olehb karena itu, keterampilan ini perlu dilatihkankepada murid SD-MI melalui pembelajaran, seperti menetapkan bentuk suatu ruangbenda, arah suatu gerakan, lamanya waktu yang dipakai untuk mengelilingilapangan olahraga dengan berjalan kaki dan sebagainya.

6.      Pembuatan Hipotesis
Pembuatanhipotesis merupakan keterampilan yang sangat penting bagi seorang ilmuwan.Suatu hipotesis adalah suatu perkiraan ilmiah tentang pemecahan suatu masalah,penjelasan suatu keadaan, dll yang selanjutnya di uji kebenarannya melaluipenelitian, eksperimen, dan sebagainya. Murid SD-MI perlu memperoleh latihanuntuk membuat hipotesis yang kemudian di uji dengan eksperimen sederhanamelalui berbagai pembelajaran di sekolah. Sebagai contoh : karena setiappembakaran memerlukan oksigen yang ada di udara, maka lilin yang menyala akanmati apabila ditutup rapat; atau lilin menyala yang penutupnya kecil akan padamlebih dahulu dari pada lilin menyala yang penutupnya lebih besar. Karenatanaman memerlukan air, maka tanaman yang disiram teraturakan lebih subur daripada tanaman yang kurang/jarang disiram (dengan catatan: kedua tanaman ituditempatkan pada tempat yang tidak kena hujan).
Pembuatandan pengujian hipotesis melalui eksperimen akan menumbuhkan/mengembangkanberbagai keterampilan mendasar seperti yang diperlukan para ilmuwan dalambekerja, tetapi juga murid akan menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yangilmiah, serentak dengan itu, akan menumbuhkan/mengembangkan sikap ilmiah.

7.      Perencanaan Penelitian/Eksperimen
Eksperimen atau percobaan dapat dilakukan olehsiapa saja dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kebanyakan melakukannya secaratrial and error saja. Demikian pula dengan anak, sering melakukan percobaantrial and error dengan mainannya, dengan binatang peliharaannya, dansebagainya. Berbeda dengan kebanyakan orang, para ilmuwan melakukan eksperimendalam rangka penelitian untuk menguji hipotesisnya. Para ilmuwan melakukanpenelitian/eksperimen dilandasi oleh dasar teoritis, serta dilakukan secarasistematis dan terarah yang dipandu oleh hipotesisnya. Oleh karena itu,pembelajaran di SD-MI seharusnya meningkatkan kemampuan murid yang biasamelakukan percobaan secara Trial and Error saja menjadi suatu eksperimen yangdipandu oleh suatu hipotesis yang dilandasi dasar teoritis, dan dilakukansecara sistematis dan terarah. Melalui pembelajaran, disamping seperti; jumlahanak dari setiap orang tua murid dikelasnya, tinggi badan seluruh muriddikelasnya dan sebagainya. Dapat pula melakukan penelitian yang lebih rumit,umpama hubungan antara tinggi badan seseorang dengan berat badan seseorang,hubungan antara tinggi badan dengan nomor sepatu yang dipakainya, dansebagainya. Perlu ditekankan bahwa setiap penelitian harus didahului olehperencanaan yang matang, sehingga perencanaan itu dapat berlangsung sepertiyang diinginkan.

8.      Pengendalian Variabel
Pengendalianvariabel atau faktor yang berpengaruh dalam penelitian/eksperimen merupakansalah satu keterampilan mendasar yang dilakukan para ilmuwan dalam melaksanakanpenelitian/eksperimen itu. Pengendalian variabel meliputi variabel bebas maupunvariabel tergantung (variabel eksperimen). Pengendalian variabel, baik variabelbebas maupun variabel tergantung, sangat penting dalam setiap eksperimen.Dengan demikian, murid perlu segera diperkenalkan dengan keterampilan pengendalianvariabel itu melalui pembelajaran di SD-MI. keterampilan pengendalian variabeldilatihkan secara langsung sewaktu murid melakukan eksperimen. Sebagai contoheksperimen tentang pentingnya berbagai jenis pupuk bagi tanaman: variabeltergantung (variabel yang akan diteliti adalah pupuk), sedang variabel bebasadalah semua hal yang terkait dengan tanaman, kecuali pupuk, seperti bibittanaman, tanahb tempat menanam, curah hujan atau penyiraman, sinar matahari,dan sebagainya. Dalam eksperimen, murid berlatih mengedalikan variabel bebasagar hal-hal itu sama untuk semua tanaman (baik tanaman percobaan maupuntanaman lain sebagai pembanding), demikian juga dengan variabel tergantung(variabel yang akan dicobakan) yakni penggunaan berbagai jenis pupuk padabeberapa tanaman yang berbeda dan yang tidak dipupuk. Setelah beberapa minggu,keadaan tanaman yang dipupuk. Setelah beberapa minggu, keadaan tanaman yangdipupuk dengan pupuk yang berbeda dan yang tidak dipupuk dibandingkan, sehinggaakan dapat disimpulkan tentang
-         Pengaruh pupukterhadap kesuburan tanaman, dan
-         Jenis pupuk yanglebih menambah kesuburan tanaman.
Denganlatihan pengendalian variabel dalam berbagai eksperimen, murid akan lebihmenguasai keterampilan pengendalian variabel itu.

9.      Interpasi Data
Keterampilanmenginterpretasi atau menafsirkan data adalah salah satu keterampilan kuncidalam keberhasilan ilmuwan dalam pekerjaannya. Data yang telah dikumpulkandalam penelitian/eksperimen harus dapat diinterpensi/ditafsirkan dengancara-cara sesuai kaidah ilmiah. Pembelajaran di SD-MI seyogiyanya melatih muriduntuk menguasai keterampilan interpretasi data ini. Data yang telah dikumpulkanmelalui berbagai kegiatan seperti: perhitungan, pengukuran, eksperimen, danatau penelitian sederhana, diolah dan disajikan dalam berbagai cara seperti :tabel, grafik, diagram, dan atau histogram, yang selanjutnya diinterpretasikandalam berbagai kesimpulan.
Umpamanya,pengukuran tinggi badan murid satu kelas itu, dan sebagainya. Denganpembelajaran yang member peluang untuk berlatih menginterpretasi data, muridakan terbiasa membuat kesimpulan yang sesuai dengan kaidah ilmiah, dan bukannyakesimpulan yang direka-reka saja.
10.  Kesimpulan Sementara
Keterampilanmembuat kesimpulan sementara atau referensi sering dipergunakan para ilmuwandalam suatu penelitian, suatu kesimpulan yang masih akan diuji selanjutnyauntuk menjadi kesimpulan akhir. Murid dilatih untuk membuat kesimpulansementara berdasarkan informasi atau data yang dimilikinya pada suatu waktutertentu, yang masih akan diuji kembali dengan diperolehnya informasi/datatambahan. Umpamanya guru menyebutkan tiga ciri suatu hewan (seperti, berkakiempat, lebih besar dari kambing, biasa jadi pacuan), dan murid menebaknya(kuda). Kesimpulan sementara itu diselidiki kebenarannya dengan mencariinformasi atau data tambahan, seperti tidak bertanduk, mudah djinakkan dansebagainya.


11.  Peramalan
Baikilmuwan maupun orang awam biasa membuat peramalan. Perbedaannya terletak padadasar peramalan itu. Peramalan orang awam biasanya didasarkan padapengalamannya, seperti kalau menung akan terjadi hujan, kalau panen padi gagalakian terjadi harga beras naik dan sebagainya. Peramalan para ilmuwan biasanyadidasarkan fakta atau data yang talah dikumpulkannya melalui observasi, pengukuran,eksperimen, dan lain-lain yang memperlihatkan suatu kecenderungan gejalatertentu. pembelajaran di SD-MI harus member peluang kepada murid untukberlatih membuat peramalan yang didasarkan pada informasi atau data yang telahtersedia. Umpama dapat membuat peramalan benyaknya curah hujan bulan ybs tahunini. Demikian pula dengan informasi lainnya yang tersedia dapat dijadikan dasaruntuk membuat peramalan.

12.  Penerapan (aplikasi)
Parailmuwan pada umumnya menguasai keterampilan untuk mengaplikasikan suatu konsep,prinsip, dan atau teori untuk memcahkan suatu masalah, menjelaskan suatuperistiwa baru dan sebagainya. Pembelajaran di SD-MI seharusnya melatihbmuridnya untuk menggunakan keterampilan penerapan ini, baik dengan langsungmelakukannya maupun dengan menunjukkan bukti penerapan itu di sekitarnya.Beberapa contoh seperti konsep yang menyatakan bahwa udara mempunyai tekanandapat diterapkan dengan memompa ban sepeda agar dapat mengalir keseluruh bagianrumah (untuk cadangan air di rumah tinggal) atau keseluruh bagian kota ( untukcadangan air Perusahaan Air Minum atau PDAM)
13.  Komunikasi
Keterampilankomunikasi selalu dipergunakan para ilmuwan untuk menyampaikan gagasan, hasilpenelitian, penemuan, dan lain-lain kepada orang lain, baik lisan maupun tertulis,yang biasanya dilengkapi dengan penyajian data dalam bentuk gambar, model,table, grafik, diagram dan sebagainya yang akan memudahkan orang lain untukmemahami apa yang dikomunikasikan itu. Keterampilan komunikasi ini mutlakdikuasai oleh para ilmuwan, agar gagasan, penemuan dan sejenisnya dapattersebar luas dan diketahui orang lain. Murid SD-MI perlu dibiasakanmengkomunikasikan gagasan, hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,dan sebagainya yang sesuai kaidah komunikasi ilmiah. Dengan bimbingan guru,murid harus melengkapi laporannya dengan penyajian data yang relevan denganlaporan itu, seperti gambar, table, grafik, dan lain-lain. Demikian jugaketerampilan proses yang selalu dipakai oleh para ilmuwan untuk menguasaiketerampilan komunikasi ini, baikn lisan maupun tertulis.

            Demikianlah berbagai jenisketerampilan proses yang selalu dipakai oleh para ilmuwan untuk menghasilkantemuan-temuan penting yang telah mengabdikan namanya dalam berbagai cabang ilmupengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini, bertahap tetapi berlanjut harusdiberi peluang untuk menguasai keterampilan proses tersebut melaluipembelajaran di sekolah. Pengembangan keterampilan proses secara dini harustelah dimulai di kelas-kelas awakl dengan memilih keterampilan yang sesuaidengan perkembangan dan kemampuan murid-murid yang bersangkutan, sepertiketerampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi dansebagainya. Untuk kelas-kelas lanjut harus dilatihkan berbagai keterampilanproses lainnya yang lebih sulit dan rumit: hal itulah yang dimaksudkan denganlatihan melalui pembelajaran secara bertahap tetapi berlanjut. Pengembanganberbagai keterampilan proses tersebut adalah hasil akumulasi dari diterapkannyaPKP itu melalui berbagai pembelajaran dalam berbagai bidang study.

D.     Penerapan keterampilan proses dalam rencanapelakasanaan pembelajaran di SD-MI
Setiappembelajaran selalu berlangsung selama 3 tahapan utama yakni perencanaan,pelaksanaan, dan penilaian. Kajian tentang penerapan PKP itu dibatasi hanyapada tahap perencanaan saja, dengan catatan: anda dipersilahkanmempraktekkannya bagi yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaransesuai dengan gagasan yang dikaji pada tahap perencanaan ini. Anda dapatmengadakan penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dankondisi obyektif di sekolah/kelas tempat pelaksanaan pembelajaran itu).Selanjutnya, kalau pembelajaran itu sementara dilaksanakan dan memerlukanrevisi dari rencana semula, silahkan mengadakan penyesuaian transaksional(penyesuaian karena kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).

Penyusunanrencana pelaksanaan pembelajaran harus didahului dengan beberapa kegiatansebelum mulai merancang pembelajaran itu. Kegiatan sebelum peranangan itu,antara lain sebagai berikut :
-         Pemahaman yangtepat tentang kurikulum, utamanya silani, yang menjadi acuan dalam pembelajaranyang akan direncanakan itu; kaji dengan cermat kompetensi, indicator, pengalamanbelajar, materi pokok, dan lain-lain. Pilih pengalaman belajar dan materi pokokyang cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan pembelajaran itu.
-         Pemahaman yangtepat tentang tingkat perkembangan dan kemampuan murid yang akan mengikutipembelajaran it, utamanya tentang kemampuan awalnya.
-         Fasilitaspembelajaran yang tersedia/dapat disediakan dan dapat dipergunakan dalam pembelajaran: sumber belajar, mediapembelajaran, alat dan bahan yang diperlukan.
Selanjutnya,pilih keterampilan proses yang sesuai dengan keputusan pembelajaran berdasarkanhasil kajian Butir 1,2 dan 3 tersebut diatas. Setelah langkah persiapan itutuntas, mulaialah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelasbarulah mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu.


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email