Teori Belajar (behavioristik) Edwin Guthrie

Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variable stimulus dan respon untuk menjelaskan proses terjadinya belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Clark dan Hull.
Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh karena itu dalam kegiatan belajarnya peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap.

Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan bersifat tetap, maka diperlukakan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Tidak semua hukum bisa efektif dalam pembelajaran, efektifitas hukuman juga ditentukan oleh lingkungan, karakter siswa dan ideologi yang di miliki siswa terhadap gurunya.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya dari kualitas stimulus dan respon, tetapi ada hal penting yaitu proses pemberian hukuman (punishment). Hukuman yang diberikan dalam proses pembelajaran harus sesuai dengan asumsi dan ideologi yang ada dalam diri siswa. Meskipun menurut sekolah hukuman itu tidak edukatif dan tidak efektif, bisa saja menurut sekolah yang lain sangat efektif. Hal ini disebabkan oleh asusmi ideologis yang diyakini di kalangan siswa. Contoh jenis hukuman di pondok pesantren tidak sesuai jika diterapkan di sekolah formal yang jauh dari budaya pondok pesantren.[1]
Sedangkan bila saya lihat dari sebuah documen terkait yang ada di internet menyatakan sedemikian rupa; Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.

Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).[2]




[1] M. Saekhan Muchith, M. Pd, Pembelajaran Kontekstual. (Semarang, RaSAIL Media Group). Hlm, 53-54
[2]http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=27&ved=0CD0QFjAGOBQ&url=http%3A%2F%2Fimages.fatimahrambutan.multiply.com%2Fattachment%2F0%2FSXrbWgoKCGcAABQuoBs1%2Ftugas%2520Prof.Dr.%2520Waspodo.doc%3Fnmid%3D179440537&ei=NWz-TPrHEc3nrAeBw-G2CA&usg=AFQjCNHxVl9WODNpCB8AtVYmK5wavP1cEA&sig2=i8plEkqnVDjXmnI9R5tu2Q


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email