Teori Belajar Behavior Menurut Skinner

       Burrhus Frederic Skinner Dilahirkan Di Sebuah Kota Kecil Bernama Susquehanna, Pennsylvania, Pada Tahun 1904 Dan Wafat Pada Tahun 1990 Setelah Terserang PenyakitLeukemia. Skinner Dibesarkan Dalam Keluarga Sederhana, Penuh Disiplin Dan Pekerja Keras. Ayahnya Adalah Seorang Jaksa Dan Ibunya Seorang Ibu Rumah Tangga.
Skinner Mendapat Gelar Bachelor Di Inggris Dan Berharap Bahwa Dirinya Dapat Menjadi Penulis. Semasa Bersekolah Memang Ia Sudah Menulis Untuk Sekolahnya, Tetapi Ia Menempatkan Dirinya Sebagai Outsider(Orang Luar), Menjadi Atheist, Dan Sering Mengkritik Sekolahnya Dan Agama Yang Menjadi Panutan Sekolah Tersebut. Setelah Lulus Dari Sekolah Tersebut, Ia Pindah Ke Greenwich Village Di New York City Dan Masih Berharap Untuk Dapat Menjadi Penulis Dan Bekerja Di Sebuah Surat Kabar.[1]


Setelah mem-posting tentang teori behavior menurut 4 tokoh, saya ingin mencoba menuliskan tokoh Skinner dalam teorinya yang berkenaan tentang Teori Behavioristik ini.
Dalam buku pemahaman Tingkah Laku karya Muh Farozin dan Kartika Nur Fathiyah dijelaskan bahwa Teori Skinner dalam proses pembelajaran yang terkenal adalah Operant Conditioning:
a)        Prilaku adalah keteraturan (behavior is lawful)
b)        Manusia ibarat seperti kotak tertutup yang penuh isi. Di dalam kotak yang penuh isi pasti ada proses pengolahan input yang akan menghasilkan out put.
c)        Penjelasan dalam proses pembelajaran dilihat dari respon sebelumnya yang dilakukan siswa. Dengan demikian proses belajar perlu memperhatikan prilaku yang dilakukan siswa diwaktu sebelumnya.
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana seperti yang telah digambarkan oleh para tokoh yang sebelumnya.
Dikatakan bahwa respon yang diberikan oleh seseorang/ siswa tidaklah sesederhana itu. Sebab, pada dasarnya stimulus2 yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus2 tersebut akan memperngaruhi bentuk respon yang akan diberikan.
Inti dalam pembelajaran juga terletak pada reinforcement (penguatan). Dalam proses pembelajaran ada beberapa macam reinforcement (a) Primary reinforcer, yaitu penguatan yg dilakukan dengan cara pemenuhan kebutuhan material seperti makan dan minum; (b) Scondery reinforcer, yaitu penguatan yg dilakukan dg cara melakukan pemenuhan kebutuhan sekunder bagi manusia. (c) generalized reinforcement, yaitu penguatan yg dilakukan dengan berbagai cara baik ditekankan pada kebutuhan primer mauun kebutuhan sekunder.
Pandangan teori belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik. Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinner lah yg paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik.
Program2 pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program2 pembelajaran lain yg berpijak pada konsep yang berhubungan dengan stimulus-respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program2 pembelajaran yg menerapkan teori belajar yg dikemukakan oleh Skinner.
Dalam pandangan teori behavioristik dikatakan bahwa motivasi sangat berpengaruh dalam proses belajar. Sayangnya ketertarikan siswa justru bukan pada motifasi mengerjakan berbagai tugas belajar, malah seringkali tertarik dengan motivasi yg diluar proses pembelajaran, seperti tertarik dengan tayangan sinetron televisi, lagu-lagu populer, tertarik dengan gaya para selebritis. Artinya siswa pada umumnya lebih banyak mendapatkan pengalaman penguatan yg kuat pada kegiatan2 di luar jam pelajaran, tetapi tidak mendapat penguatan dalam kegiatan belajar di kelas. Dalam konteks ini, para tenaga kependidikan (guru) memiliki tugas yg sangat besar untuk merubah cara pandang siswa agar lebih tertarik dengan fenomena yg menyebabkan mereka lebih serius melakukan proses pembelajaran.
Teori behavioristik cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai terget tertentu sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yg berpengaruh dalam hidup ini yg mempengaruhi proses belajar. Jadi pengertian belajar tidak sesederhana yg dilukiskan oleh teori behavioristik.[2]



[2] M. Saekhan Muchith  M.Pd, 2004. Pembelajaran Kontekstual. (Semarang: Rasail Media Group)


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email