Suhrawardi Al-Maqtul

  1. Sejarah Singkat
Syaikh Syihabuddin Abul Futuh Yahya Suhrawardi yang lebih dikenal sebagai Syaikh Isyraq. Ia lahir pada tahun 549 H/1154 M di kota Suhraward bagian barat laut Iran. al-Malik al-Zahir al-Ghazi (putra Salahuddin Al-Ayyubi).
  1. Karya-karya Syaikh Isyraq (Suhrawardi)
Karyanya dapat dibagi beberapa kategori. Kategori pertama, merupakan karya utama filsafatnya yang ditulis dalam bahasa Arab. Kategori kedua, adalah karya simbolik yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Persia. Kategori ketiga adalah karya-karya yang ditulis dalam risalah pendek Arab, dan yang lainnya dalam bahasa Persia.

  1. Sistem Filsafat Isyraq
Filsafat Isyraq pendekatan hudhuri (presentif) dan syuhudi (intuisi) kedudukan dan kehakikiannya lebih utama dan pertama dari demonstrasi akal (burhan) dan ta'aqqul; dan hal ini merupakan poin yang mengemuka dalam neo-filsafat khususnya fenomenologi Husserls. Dan titik perbedaan di antara fenomenologi Husserl dan filsafat Isyraq, fenomenologi Husserl memberikan penjelasan naqidh tentang ilmu hudhuri sementara Suhrawardi yang bersifat isyraqi dan pengenalan bersandar kepada intuisi isyraqi.
  1. Empat Tingkatan Filsafat Isyraq
1.      Pensucian jiwa dan kesiapan untuk mukasyafah (disclosure) dan menyambut pendaran Ilahi.
2.      Tingkatan penyaksian cahaya Ilahi dan menerima cahaya-cahaya yang kompatibel yang membentuk fondasi makrifat dan ilmu.
3.      Tingkatan struktur ilmu yang benar. Pada tingkatan ini, filosof menggunakan filsafat dan ilmu logika dan "rangkapannya" yang dicapai pada tingkatan pertama dan kedua dianalisa pada sistem logika argumentatif dan burhani dan seterusnya; dan bangunan makrifat akan terkerangka. Dengan kata lain, tingkatan ketiga merupakan tingkatan penerapan struktur ilmu yang bersandar kepada pengalaman-pengalaman nafsani, batini, dan isyraqi. Natijah dari tingkatan ini adalah datangnya ilmu yakin dan sebuah sistem yang memiliki bentuk dan karakteristik tipikal yang dapat dianalisa secara filosofis.
4.      Merupakan tingkatan memprasastikan dan menyusun apa yang dihasilkan dari tingkatan satu hingga tingkatan ketiga. Artinya selepas mendapatkan tingkatan yakin seorang filosof seyogyanya menyusun apa yang telah didapatkannya itu secara filosofis dan argumentatif. Untuk menyusun dan memprasastikan natijah-natijah tersebut, terdapat dua jenis "bahasa" yang digunakan. Yang pertama adalah bahasa biasa yang bersandar kepada ilmu logika dan yang kedua bahasa metaforis. Dalam perspektif Suhrawardi, bahasa metaforis dan simbolik merupakan media yang paling baik dalam menjelaskan hasil dan natijah keempat tingkatan yang disebutkan di atas.
  1. Cahaya dan Hakikatnya
Syaikh Isyraq dalam pembahasan cahaya beranggapan bahwa apabila terdapat sesuatu di alam eksistensi ini yang tidak membutuhkan penjelasan dan defenisi, maka kami katakan bahwa sesuatu itu adalah cahaya. Karena tidak ada sesuatu yang lebih terang dan lebih jelas kecuali cahaya itu sendiri. Dan yang kami maksud dengan 'sesuatu tidak memerlukan defenisi' di sini adalah suatu yang dalam zat dan kesempurnaannya tidak bergantung dan tidak bersandar pada sesuatu yang lain. Pandangan Syaikh Isyraq ihwal cahaya ini mengingatkan kita tentang pandangan Mulla Shadra ihwal wujud.
  1. Cahaya Segala Cahaya
Sebagaimana Mulla Shadra, bahwa wujud itu harus berujung dan bermuara kepada Wajibul Wujud, Syaikh Isyraq juga memandang bahwa cahaya harus bersandar pada Cahaya yang tak memerlukan lagi cahaya. Dan Syaikh Isyraq membuktikan bahwa apabila cahaya murni itu bergantung pada realitas yang lain maka kebutuhannya bukan pada substasni gelap atau benda tak hidup, karena benda tak hidup tidak bisa menjadi sebab bagi keberadaan sesuatu (cahaya murni) yang lebih sempurna dan lebih tinggi dari semua aspek. Dan juga aksiden kegelapan bukan sumber eksistensi cahaya murni. Maka dari itu, kebutuhan dan kebergantungan cahaya murni niscaya pada cahaya murni yang lain. Karena tasalsul atau mata rantai yang tak terbatas pada keberadaan maujud-maujud adalah mustahil terjadi, dengan demikian mata rantai keberadaan cahaya-cahaya murni ini harus berakhir. Semua benda, aksiden kegelapan, cahaya tak murni, dan cahaya murni harus bergantung pada satu cahaya yang tidak ada lagi cahaya setelahnya, cahaya ini disebut cahaya segala cahaya (Nur al-Anwar) yang Maha Meliputi, Pemberi Wujud, Maha Suci, Maha Agung, Maha Menguasai, dan Maha Kaya.
Dalam sejarah pemikiran Islam sistem pengetahuan huduri yang merupakan kelanjutan dari tradisi kuno pra-Islam (al-maurus al-qadim), pernah terjadi konflik dengan pengetahuan syar’i (bayani). Meskipun begitu, konflik epistemologis antara sistem pengetahuan huduri dengan pengetahuan syar’i, atau antara zahir dan batin, mampu ‘diintegrasikan’ dan akhirnya dapat berjalan secara harmonis. Suatu prestasi besar yang pernah dilakukan oleh al-Ghazali. Berbeda dengan al-Ghazali, Suhrawardi melakukan upaya pemaduan pada pengetahuan huduri dengan pengetahuan diskursif (rasional). Usaha yang cukup melelahkan ini pada akhirnya mampu melahirkan sistem pengetahuan yang di kenal dengan sebutan filsafat isyraq. Atas dasar itulah, tulisan ini mencoba mencari jawaban akan persoalan bagaimana genealogi filsafat isyraq, serta proses penyinaran dan terbentuknya teori wujud.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat isyraq Suhrawardi merupakan ramuan dari banyak pemikiran para pendahulunya, baik para pendahulu yang hidup sebelum Islam maupun pada kejayaan Islam. Dari tradisi pemikiran Islam, Suhrawardi lebih banyak menekuni pemikiran dua filsuf besar, yakni Ibn Sina dan al-Farabi. Karenanya, tidak mengherankan jika filsafat isyraq Suhrawardi mengenai konsep wujud identik dengan prinsip hierarki emanasi yang telah lama dikonsepsikan oleh Ibn Sina.



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email