Pengertian Indikator

Setelah kita mengkaji tentang kompetensi pada artikel yang sebeumnya, pada kesempatan ini Napi akan memberikan perumusan tentang indicator.
Sebagaimana telah penulis kemukakan pada pembahasan standar kompetensi bahwa seorang siswa yang menguasai kompetensi layak disebut kompeten. Penilaian kompeten pada diri seseorang setidaknya didasarkan pada kriteria yang berupa sejumlah tanda penguasaan kompetensi tersbut. Tanda2 tersebut semuanya merupakan rumusan kemampuan yang lebih spesifik dari rumusan kemampuan/ kompetensi dasarnya. Perhatikan contoh berikut ini.

KEMAMPUAN
TANDA PENGUASAAN KEMAMPUAN
Melakukan Wawancara
1. Menentukan topik dan subjek wawancara
2. Menyusun daftar pertanyaan
3. Melakukan tanya jawab.
4. Menyusun informasi yang diperoleh dari tanya jawab ke dalam bentuk laporan
(selanjutnya menjadi rumusan kompetensi dasar)
(selanjutnya menjadi rumusan indikator)
Perhatikan, bahwa setiap rumusan tanda merupakanrincian atau jabaran kemampuan yang lebih khusus. Menyusun daftar pertanyaan wawancara misalnya, jelas salah satu rumusan kemampuan yang lebih khusus dibanding kemampuan wawancara secara umum.
Keempat deskripsi tanda penguasaan kemampuan yang lebih khusus itulah yang disebut sebagai istilah INDIKATOR. Dengan kata lain indikator adalah rumusan kompetensi yang spesifik, yang dapat dijadikan acuan atau kriteria penialaian dalam menentukan kompeten tidaknya seorang siswa.
Indikator dalam satu kompetensi dasar sering pula disebut sebagai penanda minimal penguasaan kompetensi. Disebut sebagai penanda minimal karena untuk menjadi kompeten, sekurang-kurangnya siswa harus menguasai keseluruhan tanda tersebut. Kegagalan mencapai satu tanda saja dari sejumlah tanda yang telah ditentukan, akan menyebabkan siswa gagal dalam menguasai kompetensi. Menggunakan contoh kompeten melakukn contoh wawancara di atas misalnya, siswa belum dianggap kompeten jika ternyata belum mampu melakukan tanya jawab, yang menjadi salah satu indikatornya.
Oleh sebab itu, biasanya kolom indikator hanya memuat rumusan tanda-tanda mutlak yang harus dikuasai siswa karena merupakan unsur yang benar-benar penting dan mendasar, yang jika tidak dikuasai akan menyebabkan siswa belum layak disebut kompeten.
Menimbang bahwa secara substantif, indikator pasti merupakanjabaran kemampuan yang lebih khusus dari kompetensi dasar. Maka hubungn kompetensi dasar dengan indikator sering disepadankan dengan hubungan Tujuan Instruksional Umum dengan Tujuan Instruksional khusus. Penyepadanan ini hanya benar dalam hal luas dan sempitnya rumusan, namun belum tentu benar secara sbstantif.
Pembelajaran dalam konteks kurikulum yang berbasis kompetensi, bertujuan untuk mengantar siswa sampai menguasai kompetensi tertentu. Tanda bahwa siswa telah mencapai kompetensi tersebut tedapat pada indikator, itu sama artinya dengan membuat siswa menguasai kompetensi. Tidak pernah suatu kompetensi berhasil dikuasai tanpa menguasai setiap indikator, sebab jika itu terjadi berarti rumusan indikator yang dibuat bukan merupakan tanda penguasaan kompetensi yang vital dan signifikan.
Berdasarkan logika di atas, maka indikator dapat sekaligus digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan pembelajaran, sekalipun pada awalnya merupakan acuan penilaian terhadap penguasaan kompetensi. Ketika dijadikan acuan dalam mengembangkan roses pembelajaran indikator dibaca sebagai tujuan belajar, dan jika dijadikan kriteria untuk menilai penguasaan kompetensi, indikator menjadi penilaian.



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email