Pemikiran Pendidikan al-Ghazali "Tujuan Pendidikan"

part 2
Tujuan pendidikan
Seorang manusia beraktifitas tidak terlepas dari pandangan hidup yang dija-dikan asas berfikirnya. Perlakuan seseorang terhadap sesuatu yang dicintainya akan berbeda dengan perlakuannya terhadap sesuatu yang dibencinya. Atau dengan kata lain persepsi seseorang terhadap sesuatu lah yang mempengaruhi per-lakuannya. Sehingga tingkah lakunya dalam kehidupan juga tergantung dari pe-mahamannya terhadap kehidupan yang menjadi asas berfikirnya. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam  kitab nizhamul Islam yang diterjemahkan oleh Abu Amin dkk berjudul Peraturan hidup dalam islam:



 Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada se-belum alam kehidupan, dan sesudah kehidupan dunia. Agar manusia bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Sebab, pemi-kiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap se-gala sesuatu, dan manusia selalu mengatur tingkah lakunya di dalam ke-hidupan sesuai dengan mafahim-nya terhadap kehidupan. Sebagai contoh, mafahim seseorang terhadap orang yang dicintainya akan membentuk peri-laku terhadap orang tersebut, yang berlawanan terhadap orang lain yang di-bencinya, karena ia memiliki mafahim kebencian terhadapnya.[1]

Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya dapatlah dilihat perjalanan kehidup-an al-Ghazali yang mengalami kegoncangan hidup akibat filsafat yang dipelajari-nya secara otodidak, sehingga kemudian membuatnya mengkritik habis-habisan filsafat dan para pemikirnya. Sehingga melihat penjelasan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di atas, kemudian memahami perjalanan hiduop al-Ghazali akan dike-tahui bahwa pendidikan dalam pandangan al-ghazali adalah bertujuan untuk men-dekatkan diri kepada Allah. Adapun Jalaludin dan Umar Said berpendapat tentang pemikiran al-Ghazali terhadap pendidikan, yakni:
Menurut pendapat Imam Al-Gazali, pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[2]
Adapun menurut Samsul Nizar, corak pemikiran pendidikan al-Ghazali dapat dilihat dari bukunya Fatihatal Kitab, Ayyuha al-Walad, Ihya ‘Ulum al-Din. Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mende-katkan diri pada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat serta me-nurutnya pendidikan adalah transinternalisasi ilmu, dan proses pendidikan me-rupakan sarana utama untuk menyiarkan ajaran islam, memelihara jiwa, dan taqarrub ila Allah, sehingga pendidikan merupakan ibadah dan upaya peningkat-an kualitas diri.[3]
Begitu pula dengan Abuddin Nata yang memahami pendidikan menurut al-Ghazali adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk kebahagiaan dunia akhirat. Namun, ia menambahkan bahwa Al-Ghazali lebih menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Selain itu ia memahami bahwa al-Ghazali memahami kehidupan sebagai kehidupan sesaat sekaligus menunjukkan ke-zuhud-an al-Ghazali.
…Dalam masalah pendidikan al-Ghazali lebih cenderung berpaham empirisme. Hal ini anara lain disebabkan karena ia sangat menekankan pe-ngaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya seorang anak tergan-tung kepada orang tua dan orang yang mendidiknya. Hati seorang anak itu bersih, murni, laksana permata yang sangat berharga sederhana dan bersih da-ri gambaran apapun. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW yang menegaskan:
كُلُّ مَوْ لُوْ دٍ يُوْلَدُعَلَ اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak dilahirkan atas fitrahnya, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.  (H.R. Muslim)
Sejalan dengan hadits tersebut, al-Ghazali mengatakan jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka anak itu menjadi baik. Se-baliknya jika anak itu dibiasakan melakukan perbuatan buruk dan dibiasakan kepada hal-hal yang jahat, maka anak itu akan berakhlak jelek. Pentingnya pendidikan ini didasarkan kepada pengalaman hidup al-Ghazali sendiri, yaitu sebagai orang yang tumbuh menjadi ulama besar yang menguasai berbagai il-mu pengetahuan, yang disebabkan karena pendidikan.
…Tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan di-arahkan bukan pada mendekatkan diri pada Allah SWT, akan dapat menim-bulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.
Rumusan pendidikan yang demikian itu sejalan dengan firman Allah SWT tentang tujuan penciptaan manusia, yaitu:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Selain itu rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud al-ghazali terhadap dunia, merasa qana’ah (merasa cukup dengan yang ada), dan banyak memi-kirkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
Sikap yang demikian itu diperlihatkannya pla ketika rekan ayahnya mengirim al-Ghazali beserta saudaranya, Ahmad, ke madrasah Islamiyah yang menyediakan berbagai sarana, makanan dan minuman serta fasilitas belajar lainnya. Berkenaan dengan hal ini al-Ghazali berkata, “Aku dat-ang ke tempat ini untuk mencarti keridhaan Allah, bukan untuk mencari harta dan kenik-matan.
Rumusan pendidikan yang demikian itu juga karena al-Ghazali me-mandang kehidupan dunia ini bukan merupakan hal yang pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatan setiap saat. Dunia hanya tempat lewat sementara, tidak kekal, sedangkan akhirat adalah desa yang kekal, maut senantiasa mengintai setiap saat.
Lebih lanjut al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat ada-lah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga orang tersebut derajatnya lebih tinggi di sisi Allah dan lebih luas kebahagiaannya di akhirat. Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidi-kan menurut al-Ghazali tidak sama sekali menistakan kehidupan dunia, melainkan dunia itu sebagai alat saja. Hal ini dipahami al-Ghazali berda-sarkan pada isyarat al-Quran:
(#þqßJn=ôã$# $yJ¯Rr& äo4quysø9$# $u÷R9$# Ò=Ïès9 ×qølm;ur
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan. (QS. Al-Hadid [57]: 20)
äzs9ur ׎öy{ ة خير y7©9 z`ÏB 4n<rW{$#
Dan Sesungguhnya hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) (QS. Adh-Dhuha [93]: 4).[4]
Lebih lanjut Samsul Nizar merumuskan tujuan pendidikan dari pemahaman-nya terhadap pemikiran al-Ghazali, yakni:
1.    Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah
2.    Tujuan utama pendidikan Islam adalah akhlakul karimah
3.    Tujuan pendidikan islam adalah mengantarkan peserta didik kepada keba-hagiaan dunia dan akhirat.[5]



[1] Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Islam, (terj. Abu Amin dkk, peraturan Hidup dalam Islam), (2001, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah), hlm. 1
[2]  Jalaluddin dan Umar Said, Op. Cit., hlm. 139, mengutip Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi al-Gazali, terj. Fathur Rahman May dan Syamsuddi Asyrafi, (1986, Bandung: Al-Ma’arif)
[3] Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 87
[4] Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 211-213
[5] Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 87 


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis materi biologi secara Up To Date via email